Archive for Juni, 2014

Lau’s Kopitiam

Posted on Juni 27, 2014. Filed under: Kuliner |

image

image

Lokasi : Teras Kota, BSD(bumi serpong damai)
harga : idr 38k (inc. Ppn10%)
menu: mie kangkung singapore
+. Rasa lumayan pas
-. Porsi kurang banyak
-. No wifi

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 1 so far )

17 jt

Posted on Juni 26, 2014. Filed under: Car, Life, Motor |

punya duit 17 juta mau beli kendaraan ? paling dapetnya cuma motor, kalo mobil sih bisa paling dapet mobil tahun tua (< 1990 an)

kalo mobil kira2 bakalan dapet :
1. Toyota Corolla DX
2. Daihatsu Charmant
3. Suzuki Carry 1.0 (mobil angkot)
4. Honda Civic Wonder ’81
5. Daihatsu Zebra ’83
6. Daihatsu Hi-Jet ‘8

kalo motor bisa dapetin motor baru paling :

1. New Jupiter MX
2. New Supra X 125 FI3. New Vario CBS ISS
4. Verza 150
5. New Suzuki Thunder 125

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 2 so far )

profesi IT

Posted on Juni 23, 2014. Filed under: English | Tag: |

Bekerja sebagai IT itu sebenarnya gampang-gampang susah dan enak-enak menderita.

gampangnya :
1. karena banyak tutorial/ilmu yg bisa dipelajari baik dari buku-buku maupun internet.

susahnya :
1. karena teknologi informasi itu tidak stagnan, alias terus berubah dari waktu ke waktu. misalnya dulu bahasa pemrograman alias Programming Language hanya sebatas CoBol, Fortran, dimana masih low level languange. sekarang sudah high-level language seperti .NET, JAVA, Python. dll

enaknya:
1. bisa memiliki pengetahuan IT / teknologi komputer & informasi umumnya lebih keren & dianggap pintar. seperti ada slogan : “Knowledge is Power, Arm Yourself”

susahnya :
1. lebih dianggap anak bawang alias hanya departemen pendukung saja terutama jika main business perusahaan bukan IT, umumnya jika bekerja di End-user.

jika dianalogikan secara kasar maka IT Programmer itu mirip2 seperti kuli bangunan, IT Support => montir mobil / dokter umum.
dimana jika tidak ada problem, umumnya nganggur / rada santai. jika ga ada proyek maka nganggur juga..

tergantung perusahaannya juga. ada yg menerapkan sistim borongan dimana 1 orang IT bisa menghandle baik programming juga support / network. ada juga yg spesialisasi, dimana 1 orang IT hanya fokus di pekerjaannya saja misalnya hanya coding/database.

umumnya perusahaan yg menerapkan sistim borongan biasanya perusahaan pribadi / kecil dimana divisi IT nya masih belum jelas/kecil. sedangkan perusahaan besar (.Tbk, group besar, banyak cabang, asing terkenal) sudah memiliki divisi IT internal yg cukup jelas/besar.

Perusahaan2 kecil juga bisa menggunakan jasa IT konsultan / kontraktor outsourcing dimana mereka umumnya pemilik tidak perlu pusing memikirkan problem / strategi IT hanya tinggal terima beres/jadi saja. namun kerugiannya adalah sudah pasti data-data perusahaan (yg masuk di program / network) akan diketahui oleh si konsultan/kontraktor tadi (meskipun si konsultan sudah memiliki kode etik / MoU bersama)
juga umumnya pengeluaran biaya kontraknya lebih mahal daripada memiliki divisi IT sendiri. karena biasanya per panggilan / per case problem, dan tidak bisa bisa semau gue jika ingin memberi tugas / meminta support.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

RAID

Posted on Juni 3, 2014. Filed under: Server, Teknologi Informasi | Tag: |

Mari Belajar: RAID

Kata Pengantar

Pada mainboard generasi sekarang, banyak sekali yang sudah dilengkapi dengan fitur RAID, terutama pada mainboard hi-end. Namun, mungkin banyak diantara pemirsa blog ini yang belum tahu atau mengerti mengenai teknologi tersebut.

Pendahuluan
RAID, Redundant Array of Inexpensive(Independent) Disks, adalah suatu sistem yang terbentuk dari beberapa harddisk/drive. Secara sederhana, kita biasa membuat beberapa partisi dalam satu harddisk. Nah, dengan RAID, kita dapat membuat satu partisi dari beberapa harddisk.

Batasan Masalah
Dikarenakan masih dalam proses belajar, maka tulisan ini hanya membahas konfigurasi standar RAID, tidak membahas konfgurasi lanjut RAID (nested dan non-standard/proprietary).

RAID 0
Juga dikenal dengan modus stripping. Membutuhkan minimal 2 harddisk. Sistemnya adalah menggabungkan kapasitas dari beberapa harddisk. Sehingga secara logikal hanya “terlihat” sebuah harddisk dengan kapasitas yang besar (jumlah kapasitas keseluruhan harddisk).

Pada awalnya, RAID 0, digunakan untuk membentuk sebuah partisi yang sangat besar dari beberapa harddisk dengan biaya yang efisien.

Misalnya:
Kita membutuhkan suatu partisi dengan ukuran 500GB. Harga sebuah harddisk berukuran 100GB adalah Rp.500.000,- sedangkan harga harddisk berukuran 500GB adalah Rp.5.000.000,-. Nah, kita dapat membetuk suatu partisi berukuran 500GB dari 5 unit harddisk berukuran 100GB dengan menggunakan RAID 0. Tentunya skenario ini lebih murah karena memakan biaya lebih murah: 5 x Rp.500.000,- = Rp.2.500.000,-. Lebih murah daripada harus membeli harddisk yang berukuran 500GB. Itulah kenapa pada awalnya disebut redundant array of inexpensive disk.

Contoh lain:
Pada saat ini ukuran harddisk terbesar yang tersedia di pasaran adalah 500GB, sedangkan kita membutuhkan suatu partisi dengan ukuran 2TB. Nah, kita dapat membeli 4 unit harddisk berkapasitas 500GB dan mengkonfigurasinya dengan RAID 0, sehingga kita dapat memiliki suatu partisi berkururan 2TB tanpa harus menunggu harddisk dengan kapasitas sebesar itu tersedia di pasar.

Data yang ditulis pada harddisk-harddisk tersebut terbagi-bagi menjadi fragmen-fragmen. Dimana fragmen-fragmen tersebut disebar di seluruh harddisk. Sehingga, jika salah satu harddisk mengalami kerusakan fisik, maka data tidak dapat dibaca sama sekali.

Namun ada keuntungan dengan adanya fragmen-fragmen ini: kecepatan. Data bisa diakses lebih cepat dengan RAID 0, karena saat komputer membaca sebuah fragmen di satu harddisk, komputer juga dapat membaca fragmen lain di harddisk lainnya.

RAID 0

RAID 1
Biasa disebut dengan modus mirroring. Membutuhkan minimal 2 harddisk. Sistemnya adalah menyalin isi sebuah harddisk ke harddisk lain dengan tujuan: jika salah satu harddisk rusak secara fisik, maka data tetap dapat diakses dari harddisk lainnya.

Contoh:
Sebuah server memiliki 2 unit harddisk yang berkapasitas masing-masing 80GB dan dikonfigurasi RAID 1. Setelah beberapa tahun, salah satu harddisknya mengalami kerusakan fisik. Namun data pada harddisk lainnya masih dapat dibaca, sehingga data masih dapat diselamatkan selama bukan semua harddisk yang mengalami kerusakan fisik secara bersamaan.

RAID 1

RAID 2
RAID 2, juga menggunakan sistem stripping. Namun ditambahkan tiga harddisk lagi untuk pariti hamming, sehingga data menjadi lebih reliable. Karena itu, jumlah harddisk yang dibutuhkan adalah minimal 5 (n+3, n > 1). Ketiga harddisk terakhir digunakan untuk menyimpan hamming code dari hasil perhitungan tiap bit-bit yang ada di harddisk lainnya.

Contoh:
Kita memiliki 5 harddisk (sebut saja harddisk A,B,C, D, dan E) dengan ukuran yang sama, masing-masing 40GB. Jika kita mengkonfigurasi keempat harddisk tersebut dengan RAID 2, maka kapasitas yang didapat adalah: 2 x 40GB = 80GB (dari harddisk A dan B). Sedangkan harddisk C, D, dan E tidak digunakan untuk penyimpanan data, melainkan hanya untuk menyimpan informasi pariti hamming dari dua harddisk lainnya: A, dan B. Ketika terjadi kerusakan fisik pada salah satu harddisk utama (A atau B), maka data tetap dapat dibaca dengan memperhitungkan pariti kode hamming yang ada di harddisk C, D, dan E.

RAID 2

RAID 3
RAID 3, juga menggunakan sistem stripping. Juga menggunakan harddisk tambahan untuk reliability, namun hanya ditambahkan sebuah harddisk lagi untuk parity.. Karena itu, jumlah harddisk yang dibutuhkan adalah minimal 3 (n+1 ; n > 1). Harddisk terakhir digunakan untuk menyimpan parity dari hasil perhitungan tiap bit-bit yang ada di harddisk lainnya.

Contoh kasus:
Kita memiliki 4 harddisk (sebut saja harddisk A,B,C, dan D) dengan ukuran yang sama, masing-masing 40GB. Jika kita mengkonfigurasi keempat harddisk tersebut dengan RAID 3, maka kapasitas yang didapat adalah: 3 x 40GB = 120GB. Sedangkan harddisk D tidak digunakan untuk penyimpanan data, melainkan hanya untuk menyimpan informasi parity dari ketiga harddisk lainnya: A, B, dan C. Ketika terjadi kerusakan fisik pada salah satu harddisk utama (A, B, atau C), maka data tetap dapat dibaca dengan memperhitungkan parity yang ada di harddisk D. Namun, jika harddisk D yang mengalami kerusakan, maka data tetap dapat dibaca dari ketiga harddisk lainnya.

RAID 3

RAID 4
Sama dengan sistem RAID 3, namun menggunakan parity dari tiap block harddisk, bukan bit. Kebutuhan harddisk minimalnya juga sama, 3 (n+1 ; n >1).

RAID 4

RAID 5
RAID 5 pada dasarnya sama dengan RAID 4, namun dengan pariti yang terdistribusi. Yakni, tidak menggunakan harddisk khusus untuk menyimpan paritinya, namun paritinya tersebut disebar ke seluruh harddisk. Kebutuhan harddisk minimalnya juga sama, 3 (n+1 ; n >1).

Hal ini dilakukan untuk mempercepat akses dan menghindari bottleneck yang terjadi karena akses harddisk tidak terfokus kepada kumpulan harddisk yang berisi data saja.

RAID 5

RAID 6
Secara umum adalah peningkatan dari RAID 5, yakni dengan penambahan parity menjadi 2 (p+q). Sehingga jumlah harddisk minimalnya adalah 4 (n+2 ; n > 1). Dengan adanya penambahan pariti sekunder ini, maka kerusakan dua buah harddisk pada saat yang bersamaan masih dapat ditoleransi. Misalnya jika sebuah harddisk mengalami kerusakan, saat proses pertukaran harddisk tersebut terjadi kerusakan lagi di salah satu harddisk yang lain, maka hal ini masih dapat ditoleransi dan tidak mengakibatkan kerusakan data di harddisk bersistem RAID 6.

RAID 6

Kesimpulan dan Saran
Banyak manfaat yang didapat dengan konfigurasi RAID, yakni kecepatan, reliabilitas data, dan toleransi kesalahan. Namun belum lengkap rasanya jika membahas RAID tanpa membahas hot-swappable harddisk, juga beberapa konfigurasi lanjut seperti RAID 0+1 atau RAID 1+0. Mungkin akan dibahas di lain waktu.

Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat bermanfaat bagi pemirsa sekalian.

artike sumber dari : http://adha.ms/p/85/mari-belajar-raid/

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

MX Full DC

Posted on Juni 2, 2014. Filed under: Jupiter MX / T135 / Spark | Tag: |

akhirnya setelah kira2 1 bulan mengendarai Jupiter MX dengan kelistrikan AC, hari ini kelistrikan MX telah dirubah menjadi DC Full Wave 1 Phase.

mengapa dirubah ? sebenarnya tidak ada problem berarti jika hanya menggunakan kelistrikan standard, toh sudah 1 tahun lebih dikendarai ga ada masalah. hanya kebetulan ada Kiprok / rectifier bekas Supra X 125 dulu yg nganggur / ga kepake. daripada dibuang mendingan dicoba sapa tau masih ok.

kelistrikan Full DC:

+. nyala lampu stabil terangnya, jika meredup, berarti aki nya soak
+. syarat untuk pasang HID, LED, pernak-pernik kelistrikan lainnya
+.menambah sedikit power+akselerasi motor, karena pengapian lebih stabil
-. harus modifikasi, merubah sistim kelistrikan bawaan (khususnya motor bebek yg masih AC) otomatis biaya
-. kiprok pun harus menggunakan kiprok DC yg harganya jauh lebih mahal daripada kiprok standar.
-. lebih rumit cara merubahnya, jika tidak paham betul caranya akan beresiko gagal / terjadi korslet.

mulai googling / surfing di web, tentang cara2 / tip2 merubah kelistrikan dari AC ke DC dan sepertinya banyak orang yg udah berhasil melakukannya. namun karena oe bukan ahli kelistrikan (background pun bukan orang elektro) akhirnya oe pun ambil aman yaitu daripada nekat kutak-katik tiba2 korslet, mendingan serahin sama ahlinya saja..

ada cukup banyak montir spesialis modif kelistrikan motor seperti : hokiedokie (Mas Arie) yg berlokasi di daerah Bekasi, Tepatnya Kranji (jalan Kali Besar Barat ) sudah punya website yaitu : www.tokohid.com

Ardvark Motoshop, daerah Cipinang
BonSpeed 77, daerah Pramuka, khusus bengkel malam hari buka jam 18.00 – 02.00. buat yg ga punya waktu pagi-siang bisa cocok ke bengkel ini.

SunZ, daerah kelapa gading BCS
nah ini bengkel yg gak owe sadarin dari dulu ternyata udah spesialis maen HID / modif kelistrikan motor. ternyata deket ama rumah, ngapain kudu jauh2 ngaprak2an heheh..

toko nya lengkap, jual HID mulai dari yg murmer non garansi sampai yg cukup terkenal garansi 1 Tahun. juga pernak pernik Lampu LED, dll.
harga pun cukup bersahabat, montirnya masih muda alias anak2 tapi jangan salah, cara pengerjaannya rapi & cepat, juga menggunakan kabel yg berkualitas bukan sembarangan.

ongkos total hanya Rp. 115.000 sudah dikasih switch lampu on/off buat New MX. tentunya tidak berikut kiprok (jadi pake kiprok sendiri) 😆
bagusnya mereka hanya mau menggunakan kiprok original Tiger, jadi ga buat sendiri seperti merk Cheetah Power, JungkiWenas, dkk. HokieDokie (kiprok oe sekarang, sudah 3 tahun masih ok ternyata)

pas dipasang + diGas kenceng, voltmeter menunjukan angka di sekitaran 14,6 volt. berarti cukup normal tidak boleh terlalu overcharge bisa2 aki cepet gendut alias rusak, mending kalo cuma aki, kalo sampe merembet ke CDI ?? 😮

overall, oe cukup puas dengan biaya + hasil pengerjaannya, meski oe rada cerewet tanya ini itu, tapi mekaniknya tetap sabar. 😳

terasa kalo suara klakson lebih nyaring, nyala lampu stabil terangnya, dan perasaan motor lebih alusan dikit suaranya, juga tarikan lebih enteng dari biasanya.. dan yg pasti bisa pasang pernak-pernik lampu hias LED, HID, Angel / Demon Eyes, dkk. :mrgreen:

akhirnya, lampu rem+senja kena giliran diganti sama lampu LED HandMade
PHOTO_20140602_211435

wpid-img_20140717_194352.jpgwpid-img_20140719_161705.jpg
update : setelah 3 bulan pemakaian kiprok lama (ex.supra dulu) akhirnya tewas & aki drop, untung setelah beli kiprok kw bisa stabil lagi. tinggal pasang sendiri 😀

tahap selanjutnya mengganti lampu senja depan & sein dengan LED, sehingga beban aki bisa berkurang.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 9 so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: