Elektro

Tracker Parabola

Posted on November 25, 2019. Filed under: Elektro, Teknologi Informasi |

trackerparabola

Adalah seorang pria (kebanyakan/hampir semua) yg berusaha untuk mencari signal satelit disebut dengan istilah Tracking/Locating/Pointing agar bisa mendapat siaran/acara TV dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya.

Kegiatan ini mirip seperti tukang pasang antena TV namun lebih tinggi levelnya karena dianggap lebih sulit karena butuh teknik, pengetahuan dan kekuatan fisik serta keberuntungan.

Tekniknya yaitu membaca arah mata angin (dengan bantuan kompas), mengukur ketinggian dengan altimeter, posisi/lokasi dengan GPS, kerataan dataran dengan waterpass, mensetting decoder(RX).

Juga butuh kekuatan fisik yg baik. Karena harus memasang/merakit 1 set parabola dari komponen2nya dengan baik agar bisa berhasil.

Harus berani juga, terkadang seorang Tracker harus memasang parabola di tempat yg sulit, misalnya di atas Genteng/Atap, tempat yg sulit/sempit.
Artinya harus tidak boleh takut ketinggian

Juga harus mengangkat(memasang) parabola ke atas tiang besi, dimana semakin besar ukurannya maka akan semakin berat dan sulit.

Juga harus tahan sinar matahari (UV) jika melakukan tracking pada siang hari dimana tubuh pasti akan berkeringat banyak karena terjemur panas terik, resikonya juga kulit akan gosong akihat terpapar sinar UV, saya pun juga telah mengalaminya.

Juga harus tahan menghisap debu, udara luar apalagi jika banyak polusi udara.

Kesimpulan:

1. Ada rasa puas dan bersyukur kepada Tuhan YME jika berhasil.
Disamping itu juga melatih fisik serta daya tahan tubuh. Puji Tuhan, selama saya tracking mulai pagi2 sampai jam 9 malam, saya belum pernah sakit. Paling badan(pinggang, pungung) pegal2.

Entah mengapa saya juga bingung padahal biasanya kalau saya kecapean/kelelahan maka biasanya akan langsung sakit masuk angin, flu atau radang tenggorokan.

Apalagi saya tidur pakai AC dan disamping saya ada teman saya lagi sakit flu/batuk melulu, juga kamar tidur tidak begitu bersih karena banyak barang.

Mungkin karena saya belum terlalu tua karena saat ini saya telah berusia 38thn dan bisa dibilang tidak muda lagi.

Atau mungkin karena asupan gizi yg masih mencukupi.

Atau mungkin hanya faktor kebetulan/keberuntungan saja,kalau daya tahan tubuh saya lagi bagus.. entahlah

3. Bisa dijadikan pekerjaan sampingan yg menghasilkan duit.
Nah kalau yg ini belum saya lakukan. Karena yg namanya pekerjaan pasti ada targetnya dan harus professional. Dan setiap pekerjaan ada resikonya dan hasilnya.

Akhirnya, pekerjaan/kegiatan seperti ini lebih banyak aktivitas fisiknya daripada otaknya, karena lebih banyak fisik,otot yg dipakai, meski otak juga dipakai walau sedikit.

Akhir kata, terima kasih banyak sudah berkunjung, membaca, like apalagi komen, mohon maaf jika ada salah kata, salam damai sejahtera dan sukses selalu 😂🙏🙇

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

ASTRO TV Measat 3

Posted on November 23, 2019. Filed under: Elektro, Teknologi Informasi |

Seperti yg sudah saya tulis di artikel sebelumnya  yaitu bahwa chanel ASTRO Malaysia agak susah untuk didapat apalagi jika lokasi kita selain di pulau sumatera, kalimantan barat, Riau.

Mengapa ASTRO ? Ya, karena berisi cenel premium yg masih bisa ditembus acakannya dan film2nya ada subtitle bahasa Inggris/Melayu jadi sudah pasti bagus dan bisa saya pahami.

Meski siaran lokalnya agak sedikit kurang begitu bagus karena berbahasa Melayu.

Ditambah lagi jika hanya memakai Dish ex.PayTV seperti Indovision, Okevision, dll. Karena dish itu hanya berdiameter sekitar 80cm an saja. Maka kanal ASTRO mustahil untuk bisa didapat.

Mungkin jika diameter dish lebih besar seperti bawaan Telkomvision, VIVA+ masih bisa. Karena semakin besar/lebar diameter dish maka akan semakin banyak beam yg bisa didapat.

Sayangnya saya pun hanya memiliki dish bekas Indovision yg berdiameter 80cm dan cuma mendapat chanel K-Vision FTA saja.

Apalagi lokasi saya di Jakarta yg adalah Pulau Jawa jadi sudah pasti masuk area Out of Beam.

Signal Beam Measat3 ASTRO

Sementara acara yg bagus2 di KVision semuanya Premium Channel acakan maut jadi harus pakai RX rekomendasi tipe GOL(Gardiner, Oracle, LGSat) atau Bromo/Cartenz.

Berarti sama saja harus berlangganan dan membeli Voucher tiap bulan agar bisa menonton siaran yg diacak maut. Jika tidak maka hanya bisa menonton siaran yg FTA saja seperti berita2 lokal, TV daerah.

Setelah browsing dan ternyata caranya masih memungkinkan adalah dengan menambah ukuran dish agar menjadi lebih besar atau memakai dish parabola yg minimal 6feet.

Jika pakai dish besar (minimal 6feet atau diatasnya semakin bagus) maka channel KVision + ASTRO akan bisa didapat dan sangat bagus kualitas dan kekuatannya

Maka dari itu cara termurah adalah dengan ‘menambah sayap’ istilahnya. Bahan2 nya cukup mudah didapat dan murah harganya yaitu

1. Lembaran seng atau kawat kasa alumunium/besi. Disini saya memakai seng karena saya pikir akan lebih baik dibanding kawat kasa.

2. Plat besi lubang. Berfungsi sebagai dudukan , juga jika ada angin tidak akan goyang.

3. Baut2 , mur2, bor, tang, obeng, kunci2 pas, gunting seng, dll.

4. LNB KuBand murahan saja, hanya Venus noise : 0.3dB. masih kurang peka sepertinya, tapi ternyata masih bisa.

5. Dish Parabola merk apapun bisa, semakin besar, maka akan semakin bagus.

Prosesnya cukup mudah dan banyak tutorial , videonya di youtube.

Dan saya pun sudah berhasil memodifikasinya meskipun hasilnya kurang rapih karena tidak dibentuk.

Kurang rapi karena baru percobaan/tes

Dan hasilnya pun memang tidak sebagus memakai dish besar

Berhasil juga melock Transponder ASTRO yaitu kepala 11xxx

SI dan SQ sangat kecil mungkin karena lokasi saya di daerah Jakarta yg sudah tentu Out Of Beam

Tapi anehnya meski Signal sekarat, tapi siaran bagus dan tidak putus2 / tidak banyak noise/gangguan.

Keanehan kedua yaitu jika saya berhasil melock Kanal Astro, maka kanal KVision tidak ada signal/gelap. Dan sebaliknya.

Mungkin bisa jadi karena ukuran sayapnya masih kurang besar/lebar. Ini saja sudah cukup lebar, sudah tambah sekitar 30cm an.

Dan akhirnya siaran2 Premium Channel Astro pun saya berhasil dapatkan dengan baik.

Film Box Office full non-stop 24jam sehari 7hari seminggu, 30hari sebulan, 365 hari setahun

Namun perlu diketahui bahwa untuk bisa menonton Premium Chanel tersebut harus memakai RX yg support Jalur udara, dkk.

Dan harus ada USB WiFi Dongle atau Port LAN/Ethernet. Dan RX harus memiliki/konek ke Internet.

Kesimpulan :

1. Lokasi selain di pulau Sumatera, Kalimatan Barat, Riau. Sudah out of beam, jadi harus memakai dish besar minimal 6feet.

Semakin besar/lebar sayap maka akan semakin bagus dalam menangkap signal namun semakin memakan tempat.

2. Cenel ASTRO memiliki siaran2 yg sangat super bagus yg masih bisa ditembus dengan trik tertentu yaitu “jalur terbang”

Dan ada subtitle / teks bahasa Melayu yg masih bisa saya mengerti, beda halnya dengan cenel Thailand/India, Pakistan, dkk. Subtitlenya bahasa setempat.

3. Tambah sayap begini, masih kurang maksimal hasilnya, karena mungkin kurang lebar/besar ukurannya dan hanya eksperimen coba2 saja.

4. Jalur Terbang bukan berarti gratis tapi juga bayar namun sangat amat murah jadi sangat menguntungkan saya dan agak sedikit merugikan Perusahaan PayTV.

5. karena PayTV nya di Malaysia maka sudah pasti aman jadi tidak akan bisa dikenai sanksi.

6. Saya sangat amat berterima kasih 🙏🙇🤝 kepada ASTRO Malaysia karena masih berbaik hati tidak memakai acakan maut.

Dan juga kepada penyedia tiket udara karenanya saya bisa menikmati siaran2 bagus yaitu Premium Channel.

Tidak seperti operator PayTV indonesia semuanya sudah memakai acakan maut alias sangat super pelit, jadi tidak bisa ditembus lagi dengan cara2 biasa melainkan harus memakai RX khusus yg ada smartcardnya alias harus berlangganan setiap bulannya.

Sekian artikel oprek kali ini, mohon maaf jika ada salah kata, menyinggung pihak tertentu, tidak aja tujuan seperti itu hanya untuk eksperimen saja, akhir kata, terima kasih banyak sudah mampir, membaca dan like apalagi komen blog saya, salam damai sejahtera dan sukses selau 😂🤝🙏🙇

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 1 so far )

Channel Satelit Favorit

Posted on November 7, 2019. Filed under: Elektro, Oprek, Teknologi Informasi |

Sejak dari kamis minggu lalu saya mulai mendapat titik cerah mengenai tracking parabola 6feet solid satelit C band.

Dan akhirnya bisa melock(mengunci) satelit2 yg cukup mudah. Sampai cuti kerja 3 hari demi ingin tahu dan ingin bisa. Maka usaha susah payah kelelahan, masuk angin,

kulit gosong karena kepanasan pun terbayar sudah.

Seminggu terakhir ini cuaca bisa dikata panas apalagi siang hari.

Hanya hujan 1x saja itu pun sebentar saja. Akibatnya cuaca menjadi sangat panas apalagi di siang dan sore hari.

Istilah2/Singkatan

SI : Signal Intensity, SQ : Signal Quality.

Dish : piringan/wajan parabola, yaitu berbentuk 1/4 bola

Feet : kaki, 1 ft = 30.5cm

Loc : locate, tracking, lock, yaitu menembak posisi satelit agar mendapat SI & SQ tertinggi.

RX : Receiver/decoder.

FTA : free to air. Alias cenel gratisan.

FTV: free to view, alias cenel diacak/enkripsi.

PCN : Premium Channel, yaitu cenel premium diacak maut alias sangat sulit atau hampir mustahil untuk dijebol. Jadi harus memakai RX khusus/rekomendasi PayTV tersebut.

PayTV : operator TV berbayar, yg menerapkan acakan maut kepada PCN, ada juga FTA nya meski sedikit. Misalnya MNC Group, Transvision(K-Vision), Skynindo, TopasTV, BigTV, Emtek, MolaTV, NexTV, Ninmedia, AoraTV, OrangeTV, Indiehome

Adapun rangkuman chanel satelit favorit saya adalah

1. Palapa D, Telkom4 (108E)

Koordinat 113°E, berisi transponder C Band.

Satelit Yg termudah untuk di loc, dan biasa menjadi acuan/titik awal bagi tracker2 indonesia. Biasa digabungkan dengan Telkom karena lokasi cukup dekat. Berisi kanal2 lokal namun selain MNC group. Karena kanal MNC diacak maut dan Hanya bisa dibuka jika berlangganan MNCVision, MNCPlay, TransVision, dll.

Palapa D dan Telkom sendiri merupakan satelit kebanggaan tanah air bumi pertiwi, dan berisi banyak siaran lokal. Meski ada juga chanel luar nya seperti

AlJazerra, dll. Cukup banyak juga channel2 premium acakan maut yaitu milik Matrix TV, TopasTV. Namun tidak akan bisa dibuka hanya dengan Receiver biasa.

Sementara Telkom4 banyak berisi channel2 daerah seperti TV Papua, TemanggungTV, TVRI Kaltim, dll.

Belakangan ini di PalapaD ada channel FTA (FreeToAir/gratis) baru yaitu MCine dan TVP yg berisi Film2 yg lumayan bagus meski belum sekelas Box Office.

2. Chinasat10.

Koordinat 102.5°E, berisi transponder C Band.

Berisi channel2 premium milik operator PayTV Skynindo. Dan hanya ada sedikit kanal FTA yaitu berita2 lokal.

Taktik promosi nya yaitu setiap kamis, maka kanal premium akan terbuka semuanya, seperti KIX, Thrill, Fox Movies, HBO, Celestial Movies, dll. Selain kamis maka akan tertutup kembali alias diacak maut.

3. Thaicom 5,6,8

Koordinat 78.5°E, berisi transponder C & Ku Band. C band nya sangat banyak cenelnya

Satelit Thailand, berisi channel2 negara thailand, myanmar, laos, kamboja.
sangat banyak channel FTA nya, namun lokal semua.

Ada juga film birunya meski saya belum berhasil mendapatkannya. Signalnya sangat kuat sehingga sangat mudah melocknya. Namun sayangnya bahasa Thailand dan subtitelnya Thailand jadi percuma juga saya gak ngerti.

4. Asiasat 7 (100.5E) Asiasat 5 (105.5E)

Letak berdekatan dengan PalapaD. Jadi cukup mudah di loc.

ASIASAT7

Berisi cenel2 negara india, pakistan, bangladesh. FTA nya isi hampir semua iklan jualan obat kuat,pelangsing, dengan video & gambar2 yg menggoda. Cenel lokal berisi film, berita india, dkk. Yg tidak sy ngerti juga.

Premium channelnya juga tidak ada yg bisa terbuka, Star & Zee Group.

Asiasat 5

Isinya cenel2 negara Arab. Turki, kuwait, iran, Qatar. Fta nya ada Dubai Sports, AlJazeera, BBC, Cubavision, katyusha, Alkass Sports, dll.

PCN nya Star Group.

5. Intelsat 20.

Berada cukup jauh ke barat, jadi dish miring pisan ke kiri, bagusnya air hujan ga ngumbyang alias tergenang jadi mengurangi resiko karat.

Satelit India lagi. FTA nya cuma berita2, film2 india yg ga ada bagus2ya, gunanya buat sy.
Namun ada PCN nya yaitu HBO India yg terbuka dengan ‘jalur udara’.

6. Chinasat 11 (98.5E)

Satelit ini sangat mudah diloc

Disewa oleh PayTV Ninmedia, dengan slogannya : TV Rakyat Indonesia. Cukup banyak FTA nya, PCN nya juga lumayan bagus seperti Blue Ant, Discovery, Animal Planet, Citra entertainment.

Namun FtV bisa ditonton hanya jika memakai RX rekomendasi yaitu yg bertipe Oracle.

Juga setelah memakai RX Oracle, FTA nya nambah yaitu Galaxy, Galaxy Premium, Citra Group. PCN terbuka jika sudah beli vocher.

7. Measat 3.

Satelit yg cukup mudah diloc, setelah Chinsat11, apalagi jika memakai TwinLNB KuBand seperti buatan LGSAT.

Satelit Measat3 diisi PayTV K-Vision (Indonesia) dan AstroTV(Malaysia). Juga memiliki Trasponder C Band dan KuBand.

Beam KVision cukup melimpah untuk wilayah seluruh Indonesia, sementara Beam Astro hanya dibatasi sampai wilayah sumatera, kalimantan, Riau, dkk saja,
images (10)2207979879409781137..jpg
jika lokasi di pulau jawa, dkk. Maka sangat sulit atau hampir mustahil untuk bisa mendapatkannya.

Namun ada cara untuk bisa mendapatkannya dengan tips & trik khusus di artikel selanjutnya

Sekian artikel kali ini, mohon maaf jika ada salah kata, menyinggung pihak tertentu, akhir kata, terima kasih banyak sudah mampir, membaca dan like apalagi komen blog saya, salam damai sejahtera dan sukses selalu 😂🤝🙏🙇

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 1 so far )

Tracking Satelit

Posted on Oktober 31, 2019. Filed under: Elektro, Teknologi Informasi |

Belakangan in tiap sabtu, minggu saya Mulai sering tracking satelit, tujuannya agar bisa dapet chanel bagus apalagi gratis selamanya jadi ga perlu bayar. Malahan jadi mulai ketagihan/kegilaan.

Dan setelah coba tes tracking, awalnya saya selalu gagal, karena masih pemula. Kali ini pun berhasil meski baru iseng coba2.

Ternyata caranya cukup simpel yaitu :

1. Arah utara harus pas. Jika tidak, maka pasti tidak akan dapet signal.

2. lNB harus bener pasangnya. .kedalaman sekitar 36_40 tergantung ukuran dish. Titik 0 LNB harus diarahkan ke barat/timur, sesuai arah kompas, atau feeling.

3. Atur deklinasi/kemiringan utara selatan sesuai tempat kita berada. Jika di bawah equator maka dish harus dimiringin ke utara. Berapa besar derajatnya bisa dicek dari website atau sementara pakai perasaan dulu.

1. Buat satelit baru misal namanya Z, lalu tentukan arah lintang timur barat nya misal 113.0E (meniru koordinat Palapa D)

2. Transponder tidak perlu dibuat dulu.

6. Install aplikasi pencari satelit, ada banyak macamnya di Google Playstore, saya pakai SatFinder, SatPointer, Satelite Director.

7. Cari posisi satelit berdasar nama, koordinatnya. Misal Palapa D, 113°E artinya 113 derajat bujur timur.

8. Rebahkan dish sesuai arah satelit di HP. Nah ini yg pakai feeling, karena di aplikasi terlihat disuruh membelokan dish sesuai arahnya, tapi prakteknya bukan membelokan dish tapi merebahkan/menegakan dish.

Jika memakai dish mini/offset maka baru membelokan dish, dan sebaliknya.

9. Lakukan Blind Scan di receiver, sambil mengulangi langkah 7 tadi. Jika ada Transponder yg muncul berarti hampir ketemu satelitnya, tinggal ditahan posisinya.

Terlihat jika sudah dapat transpondernya, maka signal sudah akan bisa didapat, dan SQ(Signal Quality) dibawah 60% aja sudah bisa mendapat siaran yg cukup bagus.

Karena baru blindscan, dan satelit ga jelas maka baru hanya mendapat sedikit channel saja.

Jika sudah berarti sudah 75% bisa, maka tinggal melihat panduan tracking satelit yg sebenarnya.

Kesimpulan :

1. Parabola solid dish atau jaring minimal ukuran 6feet sudah cukup memadai jika ingin menangkap siaran2 TV yg sangat banyak dari satelit.

2. Parabola besar dengan LNB C Band lebih tahan terhadap gangguan cuaca buruk misal hujan , petir, angin kencang, dll.

Namun membutuhkan tempat yg agak besar & lapang dan harganya pun lebih mahal daripada parabola mini.

3. Parabola kecil/mini dengan LNB Ku Band lebih murah harganya dan mudah pemasangannya karena hanya membutuhkan ruang kecil namun agak rentan terhadap gangguan cuaca buruk

4. Jumlah channel yg akan didapat, tergantung banyak faktor yaitu kualitas dish, LNB, kabel, Diseqc, teknik tracking untuk memaksimalkan kekuatan & kualitas signalnya.

5. Dengan memakai antena parabola maka kita akan mendapat kualitas gambar siaran TV Digital yg sangat dan bebas noise/gangguan dibanding jika memakai antena TV biasa / analog.

Meski siaran digital pun sudah bisa juga ditangkap dengan antena TV biasa.

6. Antena parabola harus dipointing/diarahkan ke satelit tertentu dengan benar derajat, sudut, kemiringan, dll.

sementara antena TV biasa hanya perlu diarahkan ke arah mata angin saja jadi lebih mudah.

Maka parabola biasanya banyak dipakai di daerah2 pedesaan yg mana jauh dari pemancar/Stasiun TV Lokal.

7. Cenel2 siaran di satelit biasanya disewa oleh operator PayTV untuk berjualan siaran premium (film, acara, dll)

Cenel2 Gratisan pun ada dan banyak namun biasanya kurang bagus dan isinya hanya berita2, iklan jualan karena tidak memiliki hak siar.

Ok, cukup sekian tutorial kurang kerjaan kali ini, terima kasih banyak dan salam sukses selalu sudah mampir membaca, like, apalagi komentar.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Renovasi Parabola Besar

Posted on Oktober 31, 2019. Filed under: Elektro, Teknologi Informasi |

berhubung ada Parabola Besar rusak, karena ditinggalin begitu saja oleh pemilik rumah yg lama, maka saya pun mulai mengamati nya. Tampak payung sudah cukup tua karena usia, ada bagian2 yg berkarat akibat umur. Yg lebih parah lagi ada bagian yg sudah bolong karena karat begitu dalam & luas.

Nah, buru2 deh dicat supaya karat tidak menyebar dan semakin parah menggerogoti.Caranya dengan mengecat dengan cat besi, dicampur thiner atau bensin.Dan hasilnya seperti ini :

Meski rada norak juga sih, ya berhubung ada cat pink yg nganggur daripada gak dipake lagi, akhirnya ya jadilah seperti ini.Bisa pakai cat apapun lebih bagus yg antikarat, karena payung besi ini akan terjemur panas terik, terhujani air hujan yg asam, selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, bahkan sampai selamanya.

Dan setelah dirasa cukup tebak lapisan catnya, maka harus tunggu selama 2hari an agar catnya benar2 kering sempurna.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Ngahias tayung beusi

Posted on Oktober 19, 2019. Filed under: Elektro, SUNDA, Teknologi Informasi |

Pedah aya tayung beusi atw antene parabola nu gedé, dimana teu dipaliré, matak karatan kabéh.

Saking walesna karat, nepika aya nu copong kituAhirna, tibatan diantepken engkena matak ancur lebur janten banda ruksakan.

Teu nyaho, geus baraha lami, tiasa karatan wales kituLangkung saé, dibeneran waé, eh geningan ker dicobian masih tiasa kénéh.

carana mni gampil pisan, sésa modalan cat besi jng thinner waé jng loba tanaga atw awak kudu kiat, pedah berang2 cahya panonpoé morérét pisan.anu éta nu karatan, kudu diampelas méh lemes.. tuluy diolésan cat lisah/besi ges dipagalo jng tiner.

Paranna méh ngurangan karat jng ngaleresken panampilan ogé

Ahirna, saatos tuus/garing, tuluy dicobi néwak signal , ngarah ka satelit nu dihayangken.Lajeng, urang mimiti neangan channel/cenel/kanal siaran tipi.Carana nyaéta :1. Tangtosken ngarah lintang kalér jeng kidul dina Batang/ AS lintang sami ku ngarah kompas kalérna.2. Doyongken dish ka kalér lamun bumi urang aya di handap ti katulistiwa/equator. Lamun bumi manéh aya di luhuren garis katulistiwa, mangka éta dish kudu dimedengken ka kidul. Sabaraha darajat kadoyongena? Éta gumantung lokasina. Tiasa ditingali di http://www.dishpointer.com3. Doyongken dei dishna saluyu jeng lokasi dimana satelitna aya. Kudu kanggo alat SatFinder atawa nu lewih mirah tiasa kanggo aplikasi android nu namina SatFinder, Satelite Director Pro, DVB Finder, dll.4. Cobi tes blind scan, bari nempokeun ka layar monitor, bari didoyong2 saeutik ka kiwa, ka tengen, mun aya bijil TP atawa cénel berarti geus bener.

5. Mun geus réngsé, kaluar dah éta cénel. Engke tiasa dimaximalan SQ na.Ahir kata, hatur nuhun pisan parantos maca/maos artikel urang ieu. Mugi2 urang sadayana sok dibérékeun kasihatan jeung rejeki ti Gusti Allah.Salamet répéhrapih raharja tur sok sukses.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Gigabass Turbo

Posted on Agustus 18, 2019. Filed under: Elektro |

Karena kurang puas dengan kualitas suara pada kit ampli sebelumnya. Maka saya nekat beli kit Gigabass lagi, tapi kali ini yg pake 2 potensio, 1 utk. Gain, 1 lagi utk. Frekuensi.

Harga kit lebih mahal sedikit yaitu sekitar 18-25rb. Plus ongkir

Tapi ternyata sumber listriknya harus memakai Travo CT. Sementara di rumah sy hanya punya adaptor DC saja.

Jadi harus beli trafo ct 2Amper. Sekitar 45rb(plus ongkir)

Tapi ternyata output DC yg dikeluarkan oleh trafo ct masih belum stabil/rata, jadi harus distabilkan dulu dengan kit powersupply ct. Harga 20rb.

Lalu sy rangkai semua itu, dan pas sy tes, nyetrum. Kenapa ? Karena belum ada rangkaian groundingnya.

Lalu daripada sy repot bikin grounding lagi, sy pake box psu komputer dan ternyata berhasil, tidak nyetrum lagi,

Kesimpulan ;

+. Dengan memakai kit Gigabass Turbo ini maka Frekuensi subwoofer 60Hz bisa dipaksakan masuk ke woofer murahan ini,

meski pada akhirnya si speaker woofer murahan pun mentok jika digeber maka akan muncul suara brekbreg..

-. Kurang praktis, makan tempat, karena harus pake listrik simetris atau tegangan CT, jadi otomatis ukuran kit dan box menjadi cukup besar dan berat.

+. Tambah pengalaman baru, awalnya sy tidak tahu mengenai listrik simetris atau tegangan CT

-. Harga total pun jadi lebih mahal dengan harapan bisa mendengarkan suara dentuman bass yg lebih kuat dan dalam. Total sekitar 90rb belum termasuk box psu sebagai groundingnya.
Ya begitulah oprek kali ini. Terima kasih sudah mampir, membaca, like apalagi komen. Salam damai sejahtera dan sukses selalu. ☺️

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Buat Sendiri Speaker Aktif Rumahan

Posted on Agustus 18, 2019. Filed under: Elektro, Oprek |

Daripada pusing2 bikin sendiri, mending beli jadi aja 1 set. Tapi biasanya kurang kencang , kurang bagus suaranya dan harga nya lebih mahal. Maka saya pun iseng2 coba merakit sendiri.

Sistim audio atau istilah kerennya home theater cukup banyak jenisnya mulai dari yg sederhana sampai yg canggih.

Nah berhubung ruangan sempit dan cuma buat nonton TV Parabola, dan Monitor yg saya pake ga ada speakernya, karena cuma pake monitor PC.

Juga kebetulan ada 1 buah speaker bekas mobil yaitu berukuran 6″ inch, maka saya butuh 1 buah lagi agar bisa menjadi sistim speaker stereo yaitu kiri dan kanan.

Maka saya pun belanja online, yaitu

1. Speaker woofer 6″ inch merk Elsound. Harga sekitar 45rb.

Disainnya sih cukup bagus, menarik, tapi kualitas suaranya ?

Magnet kurang besar, jadi sepertinya kurang nendang, rada nyesel juga gara2 harga murmer

2. 2 buah Box speaker jadi dari kayu MDF berikut sudah ada lubang untuk Bass Reflex nya. Harga 60rb.

3. 1 buah Stereo Amplifier, bisa buat sendiri atau beli jadi. Kalo buat sendiri pasti harganya bisa lebih murah tapi lebih repot karena kudu solder2, dll. Belum lagi kalo setelah jadi problem(ga jalan, rusak, dengung)

Amplifier kit tipe 152 beli jadi, pake Mosfet TDA7266SA. Max power output 2x40W RMS , tergantung input arus power supplynya, kata penjualnya bisa 5Amper, tapi saya cukup pake adaptor 12volt 1Amper. Harga cuma 20rb saja

Karena harga sangat murah untuk sebuah ampli stereo, maka fiturnya cuma sebagai penguat saja, tidak ada pengaturan volume, bass, treble, dll. Dan max outputnya juga rendah.

Maka saya pun menambahkan sebuah mini preampli yaitu sebuah Giga Bass Simple. Harga 15rb

Gain/penguatan tidak terlalu besar, frekuensi rendah bass juga tidak bisa dipilih, karena masih cukup sederhana

Kenapa kok cuma bass saja ? Setelah sy tes suara nya datar, malah cendserung nyaring karena sy pake tweeter mini.

4. Box plastik kecil sebagai rumah kit amplinya, harga cuma 6rb.

5. Kabel2, soket RCA, Jack Speaker,Jack DC adaptor, knop potensio, harga paling 10rb.

6. Solder, timah, obeng, tang, pinset, dll.

7. Sepasang Tweeter mini, juga elco nonpolar 3,3uF. Harga sekitar 25rb.

Setelah ada semua, maka kit ampli mini kudu disolder sedikit yaitu kabel2nya supaya jadi dan bisa dipasang ke dalam box plastiknya. Box kudu dilubangi sesuai selera kita.

foto kit ampli mini, speaker elsound 6″, tweeter mini , box speaker MDF.

Setelah dipasang ke box plastik mini maka hasil jadi seperti ini

Berisi kit ampli dan gigabass simple. Terdapat potensio utk. Mengatur bass gain, meski tidak begitu kuat.

Heatsink besar hanya untuk seukuran ampli mini, mungkin power output bisa lebih dari 20Watt RMS..

Total biaya sekitar 200rb an (termasuk ongkir,) itu diluar waktu, tenaga, dll.

Juga jika beli 1 speaker woofer lagi sekitar 45rb an.

Kesimpulan :

-. Lebih repot, capek, mahal jika merakit sendiri.

+. Suara cukup kencang dan bass lebih berasa nendang dibanding beli speaker aktif komputer yg sudah jadi 1 set. Karena ukuran woofer sedang yaitu sekitar 6″, jika ingin maksimal harusnya sy pake subwoofer, tapi harga satuannya bisa 3x lebih mahal.

Dengan harga sekitar 200rb an memang akan mendapat speaker aktif lengkap 1 set berikut subwoofernya tapi umumnya ampli yg diberikan berkapasitas kecil dan umumnya masih memakai catudaya 5Volt DC saja.

-. Agak makan tempat, karena ukuran box speaker yg agak besar.

+. Masih bisa diupgrade dengan menambahkan pre-ampli / tone control.

-. Efek penguatan bass kurang kuat/frekuensi kurang rendah, mungkin karena kit turbo bass (namanya saja) masih sederhana, jika ingin ada pengaturan frekuensi maka harus pakai yg 2 potensio.

Mungkin juga bisa karena speaker yg sy gunakan hanya Woofer murahan dengan impedansi 8ohm akibatnya frekuensi subwoofer tidak bisa kedengaran.

Ya begitulah oprek kali ini. Terima kasih sudah mampir, membaca, like apalagi komen. Salam damai sejahtera dan sukses selalu. ☺️

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Pasang Parabola Mini

Posted on Desember 8, 2018. Filed under: Elektro, Teknologi Informasi |

Setelah sekian lama akhirnya bisa nge blog lagi berhubung kesibukan kerja kantoran yg menguras waktu, tenaga, pikiran..juga berbagai problema kehidupan, akhirnya kegiatan menonton televisi saya jadikan pelampiasan sementara.

Antenna Parabola adalah antenna TV untuk menangkap signal/gelombang elektromagnetik yg dipancarkan oleh Satelit yg berada diluar angkasa, lebih tepatnya berada di lapisan atmosfer yaitu Geostasioner.

Bedanya dengan antena UHF, yaitu kalau parabola , harus pointing ke koordinat tertentu. Yg berarti harus mengarah ke sudut, ketinggian, kemiringan, posisi ,dll.

Sementara kalau antena UHF hanya perlu ke salah 1 arah mata angin saja.

Jadi lebih sulit mensettingnya.

Tujuannya agar bisa menonton siaran TV dengan bagus.

Adapun caranya yaitu dengan memakai antenna luar, namun jika masih analog maka akan kurang bagus dimana masih ada semut, goyang , dll. Atau membeli Receiver TV Digital maka pakai antenna biasa akan bagus.

Namun kekurangannya yaitu hanya sedikit channel2 nya, banyaknya channel tergantung area juga. Makanya disebut DVB-T2 (Digital Video Broadcasting – Terrestrial v.2)

Namun kelebihannya yaitu harga relatif murah, installasi cukup mudah, tidak perlu pointing, mencari letak, arah satelit, lebih ringan antennanya, lebih aman dari sambaran petir.

Nah diatasnya yaitu DVB-S2 yaitu pakai Piringan/Dish. Dan disebut Antenna Parabola.

Pada Awalnya parabola masih berbentuk besar dan memakai frekuensi C atau C Band.

Parabola jenis ini ada tipe jaring/kawat kasa. Ada juga yg tipe solid.

Untuk tipe solid lebih berat, tapi lebih bagus dalam hal kualitas signal. Juga lebih mahal harganya.

Lalu jika ingin mudah, murah maka sebaiknya memakai dish mini saja.

Caranya relatif mudah dan bahan2nya tidak terlalu mahal. Yaitu

Parabola mini bekas Pay TV, atau beli sendiri.

Biasanya jika kita berlangganan tv berbayar, jika sudah tidak dilanjutkan, maka barangnya tidak ditarik lagi. Jadi bisa kita manfaatkan.

Ukurannya tentu tidak sebesar yg parabola jaring. Umumnya diameter piringan/dish hanya sekitar 80-100cm saja.

Makin lebar makin bagus karena akan bisa menangkap signal satelit lebih banyak.

2. LNB (Low Noise Block)

Yaitu alat utk. Mengambil signal elektromagnetik yg dipancarkan satelit luar angkasa ke bumi dan mengirimkannya ke receiver/decoder untuk diubah menjadi gambar.

Untuk mini dish,umumnya berjenis Ku Band, meskipun ada juga yg Memakai C-Band, meski lebih mahal.

Ku Band sendiri muncul setelah C Band, memiliki rentang frequency lebih besar dimana bisa memuat banyak channel dan Transponder, sehingga cocok bagi para penyewa/hoster channel.

Namun kekurangannya yaitu tracking/locking yg lebih susah karena sedikit saja bergeser maka akan lost signal, juga jika cuaca buruk misal hujan lebat, badai, kemungkinan lost signal.

Gambar diatas saya sudah berhasil melock satelit Chinasat 11 NinMedia dan Measat 3 KVision. Karena posisi satelit yg berdekatan (beda derajat sedikit).

Dimana Chinasat 11 terletak di 98°E sementata Measat 3 berada di 93°E

Jika sudah pas posisinya maka di layar TV akan tampak signal intensity (SI) sekitar 90% keatas dan berwarna biru.

Dan Signal Quality(SQ) sekitar 60% keatas menandakan sudah cukup lumayan bagus.

Sekedar tips: untuk locate 2 satelit tersebut sekaligus maka saya pakai LNB Twin merk LGSat.

Jadi hanya perlu 1 bracket saja. Jika sudah loc Chinasat, maka Measat tinggal naikan sedikit LNB keduanya, maka pasti akan loc juga.

1 paket sudah lengkap dapat kabel jumper/pigtail , 4port switch diseqc.

Lalu ada juga S Band. Biasanya dipakai oleh siaran TV berbayar seperti Indovision, OkeVision, dll.

Lalu kita butuh Receiver/decoder. Ada sangat banyak jumlah,merk, tipe receiver di pasar. Tergantung kebutuhan, fitur, harga.

Untuk ini saya pakai Merk SkyBox tipe A1

Ukurannya kecil, tapi cukup baik, ada 2 power supply, via kabel listrik dan soket adaptor.

Plusnya harga dibawah 200rb, ada fitur jam.

Minusnya: agak panas , mungkin karena bodynya agak kecil.

Ok, mungkin sekian dulu. terima kasih sudah mampir membaca, komen, apalagi like, salam damai sejahtera, dan sukses selalu. 😊

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: