Jongos vs Juragan

Posted on Agustus 22, 2018. Filed under: Kehidupan | Tag: |

Atau bahasa halusnya Pekerja dan Pengusaha

Bedanya sudah jelas, sebelum menjadi bos/juragan biasanya jadi jongos/kacung dulu kecuali memang turunan/warisan dari orabgtuanya.

Karena untuk menjadi bos itu tidak mudah alias sangat susah, jika mudah maka sudah banyak yg sudah jadi bos dong.

di jaman now ini tren kemajuan teknologi, ikut mendukung mudahnya menjadi pengusaha. Terutama bisnis online. Namun semudah itukah? Saya rasa tidak.

Menjadi pekerja, artinya hidup melayani, sesuai alkitab. Namun lebih bertujuan melayani perusahaan/bos agar mendapat keuntungan yg akhirnya dibagi-bagi kepada pekerja itu juga.

Sementara menjadi bos juga melayani, namun menjadi pengatur jalannya hidup perusahaan, pekerja, agar maximal, mengatur keuntungan (pemasukan, investasi,dll) vs kerugian(hutang, pajak, dll)

Tentunya beban akan lebih berat kepada pengusaha, karena ia harus memikirkan banyak hal, terutama kerugian, hutang, karyawan, pajak, dll.

Sementara karyawan hanya memikirkan caranya bertahan agar tetap bekerja sehingga mendapat upah.

Berikut kelemahan jadi Jongos :

1. Posisi tawar menawar lemah, tidak bisa menawar gaji lebih tinggi, meski tergantung hoki juga, dan cara menjual diri. selalu dalam pihak yg lemah karena membutuhkan uang dari gaji / honor bulanan, apalagi jika pekerja level buruh dimana gaji dibayar harian.

2. Sebagian Waktu habis untuk dipakai bekerja, biasanya pekerja kantoran bekerja dari pagi sampai sore cenderung malam, sehingga waktu untuk melakukan kegiatan lain habis, misal olahraga, keluarga, atau bisnis sampingan. Istilahnya tua di kantor.

3. Harus selalu siap diperintah, dipaksa. Karena pegawai sudah dibayar dengan uang oleh sang bos maka sebagai imbal jasanya, si kacung membayar dengan tenaga, waktu, otak, dll.

4. Tanggung jawab kepada atasan yg mana merupakan orang lain bukan diri sendiri.
Setiap pelaksanaan tugas harus dipertanggungjawabkan karyawan kepada atasan. Pekerjaan yang dilaksanakan dengan baik akan diterima oleh atasan. Tetapi jika pekerjaan tersebut tidak dapat dilaksanakan dengan baik, maka karyawan harus rela mendapatkan teguran bahkan sanksi dari atasan.

5. Penghasilan tetap.
Pada umumnya karyawan mendapatkan gaji atau upah yang tetap besarnya walaupun perusahaan mendapatkan keuntungan besar. Jika ingin mendapatkan upah yang lebih besar , maka karyawan tersebut harus menambah jam kerja (lembur).

Paling setiap tahunnya akan naik gaji dan biasanya max. Hanya 10% saja kecuali sangat berprestasi, loyal, dll. Atau naik promosi jabatan.

6. Sukar menyampaikan ide. Tidak sedikit karyawan yang memiliki ide bagus untuk kemajuan perusahaan atau minimal untuk meringankan beban tugasnya.

Walaupun demikian bukan merupakan hal yang mudah untuk dapat menyampaikan ide tersebut kepada atasan. Atasan sering mengabaikan ide dari bawahan. Atau hanya didengar saja, belum tentu disetujui.

Hal ini terutama sering dialami oleh karyawan berlevel rendah, semakin rendah posisi/jabatan, maka semakin sulit aspirasinya didengar/diterima, apalagi dilakukan/disetujui.

Namun ada juga keuntungan menjadi pekerja, diantaranya :

  • Jam kerja pasti; Seseorang yang berstatus sebagai karyawan pada sebuah lembaga atau perusahaan memiliki jam kerja yang pasti, misalnya dari jam 08.00 s/d jam 16.00 atau jam 14.00 s/d jam 22.00. Pada umumnya karyawan bekerja 8 jam perhari. Jam kerja yang pasti ini memberikan manfaat kepada karyawan untuk dapat menyusun berbagai aktivitas lainnya diluar jam kerja.
  • Tanggung jawab terbatas; Seorang karyawan memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugas yang diberikan kepadanya. Tanggung jawab tersebut tidak akan menyimpang dari tugas yang dijalankan atau tugas yang dilalaikannya.
  • Penghasilan relatif pasti; Setiap karyawan pada akhir periode berhak mendapatkan upah atau gaji. Pada umumnya gaji secara pasti diberikan pada setiap awal bulan atau dua kali seminggu. Besarnya gaji yang akan diterima sudah pasti jumlahnya atau minimal sudah diketahui indikatornya, misalnya berdasarkan prestasi kerja karyawan, sehingga upah diterima signifikan dengan banyaknya output yang dihasilkan oleh karyawan yang bersangkutan.
  • Dapat membuat rencana untuk masa depan; Sehubungan dengan jam kerja dan penghasilan yang pasti, maka karyawan dapat membuat perencanaan untuk masa yang akan datang disesuaikan dengan penghasilannya tersebut. Berdasarkan ini pula banyak karyawan yang ingin memiliki rumah atau kendaraan sendiri melakukan kebijakan dengan cara pembelian secara kredit dengan pembayaran sesuai kemampuan dari gaji yang diterimanya setiap bulan.

Sementara menjadi Pengusaha adalah kebalikan dari Karyawan.
Keuntungan berwirausaha:

  • Dapat memilih bidang usaha sesuai minat dan bakat; seorang wirausahawan dapat memilih bidang usaha sesuai dengan minat dan bakatnya, maka ia akan mencintai usahanya, dan jika ia sudah mencintai usahanya maka segenap perhatian dan kemampuan akan dicurahkan demi perkembangan usaha. Selain bidang usaha yang dipilih tersebut sesuai dengan minat dan bakat tentunya yang memang dibutuhkan oleh konsumen agar “profitable”.
  • Keuntungan usaha dapat dinikmati sendiri ; usaha yang dijalankan merupakan usaha yang dimilikinya maka keuntungan dari hasil usaha menjadi miliknya juga. Ia akan memperoleh minimal dua macam pendapatan. Pertama, pendapatan dari posisinya sebagai pemilik usaha dan kedua, pendapatan yang diperoleh dari posisinya sebagai manajer.
  • Memperoleh kepuasan; keberhasilan mengelola usaha akan memberikan kepuasan tersendiri bagi seorang wirausahawan. Kepuasan ini secara tidak langsung akan memotivasi dirinya untuk lebih giat bekerja agar perkembangan usaha semakin lama semakin baik dan kuat dalam menghadapi persaingan. Kepuasan juga akan mempertebal rasa percaya diri dalam berinteraksi dengan pihak ketiga termasuk dengan pelanggan, pemasok, distributor, perbankan dan investor.
  • Tidak ada yang memerintah; seorang wirausahawan, ia menjadi pemilik sekaligus manajer dari perusahaannya maka ia juga memegang jabatan tertinggi di perusahaan tersebut sehingga tidak ada seorangpun yang akan memerintahnya untuk melakukan tugas- tugas tertentu. Ia hanya diperintah oleh dirinya sendiri dan ia dapat memerintah orang lain yang bekerja kepada dirinya.
  • Tidak perlu persetujuan pihak lain dalam membuat keputusan; saat tertentu seorang wirausahawan harus mengambil keputusan tentang sesuatu hal misalnya keputusan untuk melakukan ekspansi dengan membuka cabang perusahaan ditempat lain, keputusan untuk mengikuti pameran produk yang diselenggarakan oleh pihak tertentu, keputusan joint venture, dll. Seorang wirausahawan sebagai pemilik dan manajer perusahaan dapat memutuskan semua hal tersebut tanpa harus menunggu kebijakan dari pihak lain, kalaupun ia meminta pertimbangan dari tenaga ahli atau konsultan dengan alasan agar keputusan yang akan diambil merupakan keputusan yang paling baik bagi perkembangan perusahaan. Semua masukan dari pihak lain menjadi pertimbangan seorang wirausahawan dan pada akhirnya dia sendiri yang akan mengambil keputusan.
  • Mempunyai peluang membantu orang lain; Sebagai makhluk sosial seorang wirausahawan mempunyai cukup peluang untuk membantu orang lain misalnya dengan mengalokasikan zakat penghasilan untuk membantu korban bencana alam, peperangan, ataupun mempekerjakan mereka yang mempunyai potensi tetapi belum bernasib baik mendapatkan pekerjaan, dengan tetap memperhatikan kualitas sesuai job specification.

2. Kerugian berwirausaha:

  • Jam kerja panjang dan tidak teratur; wirausahawan tidak menutup kemungkinan akan bekerja dengan jam kerja yang sangat panjang mulai dari bangun tidur pagi hari sampai menjelang tidur kembali di malam hari. Waktu benar-benar tercurah kepada kepentingan usaha apalagi jika usaha yang dijalankan sedang menghadapi kerugian atau sebaliknya karena ingin mendapatkan keuntungan yang besar pada periode tertentu. Selain itu jam kerja wirausahawan tidak menentu. Pada saat tertentu memiliki waktu luang yang cukup tetapi pada saat lainnya ia sangat sibuk bahkan sampai lupa beristirahat.
  • Resiko dan tanggung jawab luas; sehubungan dengan posisinya sebagai pemilik sekaligus manajer bagi usahanya sendiri maka seorang wirausahawan memiliki tanggung jawab yang luas terhadap keberhasilan dan kegagalan usahanya. Wirausahawan harus menanggung resiko pada saat terjadi kerugian pada usahanya. Tidak menutup kemungkinan resiko harus dipertanggungjawabkan sampai kepada harta yang dimiliki walaupun berada di luar perusahaan. Hal ini terutama jika perusahaan bentuknya perseorangan dan pailit sehingga akan ditutup, maka untuk memenuhi kewajiban kepada pihak ketiga wirausahawan harus menutup semua kewajiban tersebut walaupun dengan menggunakan harta yang ada dirumah.
  • Pendapatan tidak stabil; Salah satu kerugian yang dialami oleh wirausahawan berhubungan dengan pendapatan. Pendapatan wirausahawan tidak dapat dipastikan atau tidak stabil. Pada periode tertentu pendapatan bersih setelah dikurangi dengan total pengeluaran akan menghasilkan keuntungan. Besarnya keuntungan dari satu periode ke periode lainnya berubah-ubah, terkadang besar pada saat lainnya kecil, bahkan pada periode tertentu wirausahawan mengalami kerugian usaha. Inilah salah satu resiko yang dapat dialami oleh wirausahawan.
  • Sering terlibat masalah keuangan; kerugian lain yang dialami oleh hampir setiap wirausahawan adalah masalah keuangan. Wirausahawan harus berpikir keras untuk dapat mengalokasikan dana yang ada untuk berbagai kepentingan usaha termasuk pembelian bahan baku, upah tenaga kerja, biaya promosi dan lain-lain.
  • Belajar tidak ada akhirnya; wirausahawan dituntut untuk selalu mengadaptasi berbagai perubahan yang terjadi. Keterlambatan dalam mengikuti perkembangan dunia usaha akan berakibat kerugian dalam berwirausaha.

Itulah keuntungan dan kerugian berwirausaha.

Bagi wirausaha handal, kerugian akan menjadi tantangan sehingga ia tidak akan pernah berhenti untuk belajar. Jika anda ingin mempertimbangkan pilihan lain, tentu pahami dengan baik keuntungan dan kerugian menjadi karyawan.

Semoga anda dapat memutuskan yang terbaik, apakah karyawan yang loyal dan kapabel ataukah sebagai wirausahawan sukses.

Saat ini saya masih menjadi jongos karena masih bekerja untuk bos, namun di sisi lain saya juga sudah menjadi pengusaha karena sudah memiliki toko online meskipun kecil dan kurang laku, dan saya bisa melakukan banyak hal sendiri.

Menurut saya definisi pengusaha adalah orang yg mengusahakan suatu hal, tanpa butuh bantuan orang lain. Misalnya memperbaiki motor sendiri, servis tv sendiri, benerin genteng bocor sendiri, masak sendiri,  dll.

ibaratnya berdikari, berdiri diatas kaki sendiri, mandiri, mandi sendiri. Jadi tidak bergantung pada orang lain. Dimana jika berhasil maka akan ada kepuasan tersendiri.

Namun memang orang pada umumnya mengartikan pengusaha sebagai orang yg mencari uang dengan tidak digaji oleh orang lain, misal berjualan, punya toko/kios, punya salon, punya klinik, punya bengkel, punya restoran, punya pabrik, dll.

Dimana memiliki anak buah/pekerja, jadi kegiatan usaha dilakukan oleh orang lain, sementara dia hanya mengatur keuangan(biaya, profit, pajak, dll) memantau pekerjaan pekerja, melatih, mengembangkan usaha, menghandle pekerja.

Pengusaha / Enterpreneur umumnya bertujuan mencari keuntungan / laba sebesar-besarnya dan sesingkat-singkatnya.
Dan mengurangi biaya, kerugian, pajak (jika perlu) sebesar-besarnya.

jika sudah mendapat laba maka jika usaha bangkrut (tidak ingin melanjutkan), maka bisa hidup dari bunga deposito bank, atau dari hasil sewa asset lain (misalnya kontrakan). namun jika banyak hutang maka harus melunasi hutang dulu baru bisa tenang.

Kerja di perusahaan, sebenarnya bertujuan mendapatkan bekal untuk berwirausaha nantinya, yaitu pengalaman, skill, uang, relasi/teman, dll.

karena pekerja ada masa pensiunnya, terutama jika sudah umur 55 tahun ke atas. maka perusahaan akan mempensiunkan pekerja tersebut.

 

Memang hal ini tentunya lebih baik, karena kita tidak akan kelelahan, waktu bisa dipakai untuk hal lain.

Jadi kamu lebih suka yg mana ? Terima kasih sudah mampir, like artikel ini. Salam damai dan sukses selalu. 🙂

Iklan
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: