interview gak jelas

Posted on April 8, 2014. Filed under: English | Tag: |

kemaren2 baru aja dapet panggilan kerja via email, biasanya kalo kayak begini ujung2nya cuma psikotest doang udah gitu biasanya tunggu panggilan berikutnya alias gagal.

pengalaman soalnya ama perusahaan2 kayak begini, meskipun perusahaan gede / group gede tapi hal ini biasanya dilakuin sama HRD yg baru masuk mulai kerja di PT. tsb. hitung2 cari karyawan sebanyak-banyaknya mungkin tujuannya dia nyari berdasarkan gaji terendah yg bakalan lolos seleksi utk. maju ke tahap berikutnya..

sy udah males nanggepin yg kyk beginian.. umumnya mereka cuma iseng2 doang, alias itung2 banyakin kerjaan mereka biar berkesan banyak kandidatnya sehingga mereka dianggap rajin di mata atasan mereka.

contoh perusahaan yg pernah seperti ini :
PT. Traktor Nusantara
PT. MultiGroup Logistic

jadi kesannya SOMBONG banget panggil interview by email, atau emang males orangnya atau emang lagi penghematan biaya telpon..

ada lagi kasus aneh, dimana saya udah bela2in dateng, eh pas sampe kesana tiba2 usernya berhalangan alias ga mau nemuin
aneh kan.. kesannya  ngerjain banget. hal ini sy alamin pas dipanggil sama PT. Havi Logistic Asia yg berlokasi di JIEP / kawasan industri pulogadung.

emang sih kita sebagai pelamar kerja selalu berada di posisi yg lemah karena kan kita yg butuh kerjaan (duit) jadi mereka bebas semau gue memperlakukan kita seenak jidatnya.. 😦 jadi ini semua tergantung hockey kita juga..

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 1 so far )

Tipe-tipe Orang yang Sulit Mendapatkan Pekerjaan

Posted on Oktober 15, 2011. Filed under: Life | Tag:, |

Dalam proses mencari pekerjaan yang ideal, 8 tipe berikut ini adalah orang yang paling sulit mendapatkannya, seandainya anda memiliki salah satu ciri berikut ini, diharapkan anda segera memperbaikinya, untuk mempersiapkan pondasi di medan pekerjaan kelak.

Orang yang sentiment businessnya rendah

Intelligence Quotient (IQ) adalah menunjukkan suatu kemampuan kerja seseorang, sedangkan sentiment business mencerminkan manifestasi seseorang dalam bertingkah laku. Di dalam masyarakat yang akan datang, bukan saja harus pintar bekerja, tapi juga harus lebih bisa bertingkah laku, ada kalanya bertingkah laku lebih penting dari pada menangani suatu pekerjaan.

Orang yang lemah psikologisnya.

Dengan banyaknya tekanan dari berbagai aspek yang tak terhindarkan dalam proses perkembangan perusahaan, terutama beban dalam persaingan, jiwa yang lemah akan membuat anda tidak dapat memikul beban berat perusahaan, dengan menempa secara aktif jasmani dan rohani yang sehat baru bisa menjadi pemenang masa depan.

Orang yang berpengetahuan kuno (ketinggalan zaman)

Sekarang adalah zaman informasi yang maju pesat, kecepatan pengetahuan baru semakin berkembang pesat, jika bersandar pada pengetahuan yang dipelajari pada masa awal untuk menghadapi selamanya itu sama sekali sudah tidak memungkinkan lagi.

Orang yang berkemampuan (skill) tunggal.

Jika ingin terhindar agar tidak menjadi “barang yang tertimbun” dalam medan pekerjaan, maka satu-satunnya cara adalah mempelajari lagi beberapa ketrampilan, menguasai satu keahlian dan berbagai ketrampilan. Inilah sebabnya mengapa orang berbakat dengan type majemuk begitu diminati.

Orang yang reaksinya lamban. (dalam pikiran & tindakan)

Jika “lamban” pasti akan “lambat”, ketinggalan pasti kena hantam, tangkas dan cekatan barulah dasar kemenangan.

Orang yang berjuang sendirian

Kerja sama dan koordinasi dalam kelompok adalah pola yang tak terelakkan untuk selanjutnya.

Orang yang berpandangan dangkal

Perkembangan seseorang perlu secara terus menerus merancang dan merancang, harus memperhatikan rencana karir dan rancangan professional, serta segera sadari akan sangkar profesi individu, dan usahakan menyesuaikan pekerjaan sendiri.

Orang yang tidak pandai belajar

Dalam masyarakat pembelajaran sekarang, ketidaksamaan antar manusia terutama adalah perbedaan dalam kemampuan belajar, kunci “perpaduan” antar manusia terletak pada “perpaduan” kemampuan belajarnya, harus menjadi orang yang “belajar dan paham dengan yang dipelajari”, dan sebaliknya bagi yang belajar tapi tidak memahami atau tidak tahu bagaimana belajar, maka cepat atau lambat pasti akan di singkirkan

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 3 so far )

Menjadi Karyawan Adalah Keberuntungan

Posted on Januari 29, 2011. Filed under: Life | Tag: |

Pernahkah anda berfikir menjadi karyawan itu suatu keberuntungan ? bagi mereka yang sejak awal bergelut didunia bisnis, menjadi karyawan adalah cara pandang yang tidak akan menjadi kaya. Tapi bagi yang akan memulai bisnis, menjadi karyawan merupakan salah satu cara agar resiko kegagalan bisnis tidak mengganggu kehidupannya.

Saya tidak mau memilih mana yang benar, itu semua tergantung kepada anda masing-masing. Bagi saya , menjadi karyawan adalah suatu keberuntungan bagi mereka yang berkeinginan yang terjun ke dunia bisnis nantinya. Sama halnya dengan apa yang diutarakan oleh Aqua Dwipayana (Berhenti bekerja Dunia tidak akan kiamat, 2005) ,”Orang yang sebelumnya telah bekerja-apapun pekerjaan yang dilakukan-lebih beruntung disbandingkan orang yang sama sekali belum pernah bekerja untuk itu, jadikanlah pengalaman bekerja tersebut sebagai motivasi untuk melakukan aktifitas lainnya dengan hasil lebih baik”.

Ada beberapa alasan mengapa bagi mereka yang akan terjun ke bisnis menjadi karyawan adalah suatu keberuntungan. yaitu :

Menjadi karyawan adalah aktualisasi diri
Kalau anda sering membaca surat kabar, tentu tak asing lagi dengan angka pengangguran di Indonesia. setiap tahun hampir dua ratus ribu angkatan kerja baru lulus dari pendidikannya baik SMP, SMA maupun perguruan tinggi. Sayangnya hanya sedikit yang mampu diserap oleh dunia kerja, selebihnya hanya menambah deretan panjang daftar penganggur.

Bagi mereka yang lolos seleksi dunia kerja, tentu bisa berbangga hati karena sudah mampu membuktikan kepada orang lain bahwa mereka mampu untuk bekerja dan berkarya. Jika anda yang baru lulus kemudian diterima sebagai karyawan suatu badan usaha, tentulah rasa hati tenang menyelimuti tidak hanya anda pribadi melainkan keluarga besar anda. Apalagi seandainya anda lolos bekerja di perusahan multi nasional dengan system perekrutan yang lebih modern, yang lebih menonjolkan kemampuan individu dan melalui berbagai tahapan seleksi yang melelahkan secara fisik dan mental, tentulah rasa bangga itu begitu besar dan meningkatkan status anda dimata keluarga atau tetangga sekitar.

Mungkin ini berbanding terbalik dengan beberapa pandangan para wirausahawan namun tidak dapat dipungkiri ini adalah realita dari sebagian besar masyarakat kita dan dengan menjadi karyawan akan memiliki status hidup lebih baik dari pengangguran. Aktualisasi diri yang begitu baik akan membantu mereka yang berniat terjun ke dunia bisnis nanti dan umumnya akan lebih percaya diri karena ada nilai plus di dalam diri mereka. Nilai lebih karena pernah berhasil mengungguli pesaingnya saat seleksi penerimaaan karyawan baru.

Menjadi karyawan adalah proses pembelajaran
Pernah dengar kisah pendiri Honda ? ada baiknya kita kembali membaca kisah beliau saat akan membangun Honda. Awalnya beliau adalah karyawan di sebuah bengkel . Ada juga cerita mengenia pediri matsusitha, beliau menjadi karyawan listrik sejak usia muda dan belajar bagaimana system usaha yang baik sebelum memutuskan mendirikan pabrik lampu listirk pertamanya.

Ada hikmah yang dipetik bagi mereka yang akan membangun bisnis, menjadi kryawan adalah proses pembelajaran dan penguasaan di berbagai bidang perlu dilakukan.
Beruntung jika mereka bekerja diperusahaan yang sudah memiliki system yang baku dan teruji. itu bisa menjadi barometer jika akan memulai bisnis. selain itu pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh perusahaan cukup membantu disamping tanpa dipungut biaya. kalo kita berprestasi atau disiapkan untuk mengisi suatu posisi, akan ada banyak training yang baik untuk dikuti banhkan untuk menlanjutkan studi.

Menjadi karyawan menambah relasi
Salah satu upaya untuk bisa sukses didunia bisnis adalah bertemu dengan banyak orang setiap hari. dengan menjadi karyawan kita akan bertemu dengan berbagai orang dengna berbagai bidang. serperti antar sesamaa karyawan atau dengan costumer. kita bisa berbicara bahkan dengna orang yang baru kenal dengna mudah. kadang pada saat acara pelatihan kita bisa berjumpa dengan rekan-rekan lain dari berbagai perusahaan. status karyawan juga bisa menjadi salah satu titik awal membangun hubungan jangka panjang. seperti yang di utarakan Rahma kepada saya.

“Setelah lulus kuliah saya bekerja di perusahaan asing dengan roster kerja 6 – 2 (6 minggu di site dan 2 minggu istirahat). dengan home base di Jakarta maka saya berkesempatan untuk pulang pergi dengan pesawat udara. Dalam suatu penerbangan pulang ke Jakarta saya bertemu dengan pengusaha butik. pemilik dua butik di Jakarta dan Surabaya. dari perbincangan santai selama di perjalanan, beliau mengatakan akan mengembangkan butiknya untuk bisa bersaing di dunia maya (e-commerce). Dari perbincangan santai itu akhirnya saya bisa mendapatkan kontrak pengembangan situs untuk butik miliknya dan hingga kini hubungan baik kami masih terus terjaga”.

Karyawan adalah pasar potensial untuk mendapatkan kredit
Mungkin anda akan terkejut betapa mudahnya karyawan mendapatkan kredit. dengan hanya bermodalkan slip gaji karyawan bisa mendapatkan barang-barang baik konsumptif atau produktif sesuai keinginannya. Pernahkah anda berjalan ke suatu perusahaan pembiayaaan dan disitu menemukan salah satu syarat kredit adalah slip gaji terakhir ? Pernahkah anda melihat brosur aplikasi kredit bank dimana karyawab bisa mengajukan kredit sebesar 2 atau tiga kali basic-nya ? Jadi semua itu tergantung anda. jika anda seorang karyawan dan ingin membuka bisnis namun terbentur modal. dengan hanya mengandalkan kredit mikro (dua atau tiga kali basic) anda bisa mendapatkannya tanpa banyak kesulitan.

Karyawan adalah orang yang mampu melayani
Dalam buku-buku bisnis dijabarkan bahwa kunci sukses dalam bisnis adalah mampu dan mengetahui kebutuhan pelanggan. banyak pebisnis yang gagal karena mereka lupa akan acuan dasar ini. Hal ini biasanya kembali ke ego pribadi dimana sikap manusia daalh senantiasa berusaha untuk unggul disbanding manusia lainnya. sikap itu justru menimbulkan arogansi yang berujung kpada kurang pekanya personal terhadap hubungan dengan orang lain.

Menjadi karyawan justru mengajarkan bagaimana kita bisa bekerja sama dan melayani satu sama lain agar tercipta hubungan kerja yang harmonis. sebagai contoh bagaimana karyawan bagian produksi mau melayani karyawan di bagian marketing sementara karyawaa bagian service melayani karyawan produksi. bagaimana jika karyawan produksi tidak mau memenuhi apa yang diinginkan karyawan marketing menyangkut spesifikasi atau qualitas barang, hal ini justru membuat perusahaan tersebut menjadi kesulitan memasarkan hasil produksinya. juga bagimana jika karyawna bagian service tidak mau melayani karyawan produksi, hal ini bisa menciptakan keterlambatan produksi karena realibilitas alat yang dibawah standar, dsb.

Kelima alasan di atas bisa saja tidak diterima oleh sebgaina kalangan, namun saya yakin jika hal tersebut berlaku secara umum untuk mereka yang berkerja di berbagai level.

Beruntung lah bagi mereka yang ingin membuka bisnis suatu saat nanti. berbagai pengalaman yang didapatnya selama menjadi karyawan akan menjadi daya ungkit untuk keberhasilannya kelak. saya menyarankan anda untuk membaca buku “Financial freedom” karangan Tung Desem Waringin, beliau dengan gamblang menjelaskan pengaruh daya ungkit untuk meraih kebebasan financial.

Agar menjadi karyawan yang beruntung saya mengariskan perlunya pemahaman sebagai berikut :

Rubah paradigma karyawan adalah orang gajian
Umumnya orang terlalu menganggap menjadi karyawan sama dengan orang gajian. Anggapan ini justru memperburuk citra karyawan sebagai orang yang disuruh atau suruhan. hal seperti ini justru membuat diri anda menjadi tidak berkembang. Anda akan selalu menjadi takut untuk berfikir dan bertindak sesuai keinginan hati.

Paradigma yang salah akan menghasilkan sikap dan tingkah laku kita tidak berkembang secara maksimal. Memang benar karyawan adalah orang gajian namun itu hanya sebagian kecil. Bagi mereka yang bekerja secara professional, gaji bukanlah satu-satunya hasil yang diharapkan. Sebagian besar kaum professional justru akan mengatakan kepuasan kerja adalah hasil dan penghasilan akan menyusul dibelakangnya.

Untuk itu paradigma karyawan adaalh orang gajian perlu diubah. saya menyarankan untuk mendefinisikan ulang arti karyawan secara positif sesuai dengan keadaan masing-masing ditambah dengan kalimat “secara professional”.

Ganti asset konsumtif menjadi asset produktif
Dengan penghasilan rutin yang didapatnya setiap bulan, bisa menciptakan sikap lalai dalam pengelolaan keuangan. kebanyakan kita tidak menyadi lebih banyak membeli harta yang konsumtif. Safir Senduk dalam salah satu kiat menyatakan “ untuk menjadi kaya kita harus membeli sebanyak mungkin harta produktif”. Harta produktif yang dimaksud disini adalah asset yang nantinya bisa memberikan penghasilan pasif.

Saya menyarankan anda untuk membaca buku karangan Robert KIYOSAKI , “Rich dad Poor Dad”. disana dibahas mengenai perlakukan financial yang sering dilakukan oleh karyawan. Bagaimana Kiyosaki menyentil pola hidup karyawan yang cenderung membelanjakan dari penghasilannya untuk hal-hal yang bersifat liabilitas dan memberikan saran perlunya melek financial untuk karyawan.

Kembangkan selalu empat dasar unsur manusia

Selama berabad-abad, para cendikiawan membagi manusia ke dalam empat unsur yang saling bergantung, yaitu : Fisik, Mental, spiritual, Emosional. Pemahaman mengenai keempat unsure ini perlu dikembangan dan dibiasakan agar terbentuk sikap positif dalam bertindak.

Pembelajaran unsur fisik menjadikan karyawan lebih berani mencoba dan tetap semangat dalam bekerja. Menjadikan karyawan siap dan tahan terhadap berbagai tantangan.

Pembelajaran unsure mental berkaitan erat dengan usnur fisik yang mendorong karyawan untuk menghadapi ketakutan akan kesalahan secra lebih bijak dan rasional

Pembelajaran unsure emosinal akan mengarhakan kepada kehatian-hatian dalam berperilaku dan bertindak.

Pembelajaran unsure spiritual akan lebih menyadarkan karyawan akan pentingnya rambu-rambu dalam bertindak. Menguatkan hakekat manusia adalah kecil di mata Tuhan akan menguatkan bahwa sifat serakah dan menggunakan berbagai cara dalam bertindak adalah sesuatu yang salah dan akan merugikan diri probadi.

Kembangkan sikap proaktif dan prioritas
bersikap proaktif berarti bekerja sesuai dengan rencana. seorang karyawan sejka awal dituntut utnuk bekerja sesuai dengan rencana. Agar rencana yang disusn berjlaan eektif pelru dilkukan pembagiam prioritss kerja agar tidak saling tumpang tindih satu sama lain. Mengmebangkan kebiasaan ini akan membantu karyawan saat akan membuka usahanya nanti terutama saat membuat suatu rencana bisnis.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

MENJADI KARYAWAN YANG BAIK DIMATA ATASAN

Posted on Januari 29, 2011. Filed under: Life | Tag: |

(Vibizmanagement – Human Resources) 1. Disiplin Contoh nyata dalam keseharian di kantor dalam hal disiplin adalah kehadiran di kantor sesuai peraturan, mengikuti tata tertib kepegawaian seperti dress code, menggunakan name tag perusahaan, meminta ijin resmi bahkan surat dokter apabila tidak dapat datang.Tiba di kantor tidak terlambat, di setiap pertemuan dengan pihak internal maupun eksternal.

Meskipun seorang atasan ada yang beripe result oriented sehingga tidak terlalu ketat dalam pengaturan jam kerja, tetapi setiap atasan pasti ingin menegakkan kedisiplinan diantara para pegawainya.

2. Tanggap Pegawai atau tim yang tidak care terhadap kondisi sekitar, hanya peduli dengan pekerjaannya sendiri saja, mempunyai nilai yang kurang dimata atasan.

Seseorang yang hanya mempunyai perbendaharaan kata ‘tidak tahu’ untuk hal-hal di luar pekerjaannya, akan sulit diharapkan sebagai partner atau tim khususnya dalam keadaan ada tekanan.

Tanggap kepada atasan termasuk dapat mengerti atau memahami dengan segera apa yang dibutuhkan oleh atasan dan mampu menunjukkan hasilnya. Orang yang tanggap akan menjadi teman yang menyenangkan bagi atasan.

3. Tuntas Mengerjakan segala sesuatu tidak dengan setengah-setengah tetapi selesai sampai tuntas. Kalau anda mengerjakan sebuah pekerjaan atau proyek, maka step-step pekerjaan mupun dokumentasinya lengkap sejak proposal, studi awal, implementasi, evalusi sampai dengan rencana langkah-langkah perbaikan yang akan dilakukan. Ketika anda mengerjakan sesuatu dengan tuntas pastilah anda menguasai apa yang anda kerjakan dengan baik.

Kebiasaan mengerjakan sesuatu dengan tuntas mendorong anda selain menjadi orang yang bertanggung jawab juga orang yang expert di bidangnya. Proses mengerjakan sesuatu hingga tuntas bukanlah sesuatu yang instant, jadi ketika anda melewatinya maka sadar atau tidak sadar anda mengalami proses pembelajaran yang berharga. Jadi, biasakan bekerja tuntas sehingga tidak membebani atasan dengan munculnya masalah yang berkaitan dengan pekerjaan anda yang setengah-setengah.

4. Sopan Santun Kemajuan di dunia bisnis mungkin sudah meninggalkan beberapa hal yang disebut sopan santun yang berlebihan. Namun demikian tidak hanya karena kita sebagai orang Timur tetapi secara universal sopan santun tetap diperlukan, apalagi terhadap atasan. Dimulai dari hal yang sederhana seperti menyapa saat bertemu, ijin apabila akan meninggalkan kantor, mempersilakan masuk lift terlebih dahulu dan beberapa etika pergaulan bisnis lainnya. Profesionalisme seseorang diukur oleh orang lain salah satunya dari etika sopan santun. Jadi hormatilah atasan anda dengan berperilaku santun.

5. Keep up date Atasan kita juga memiliki atasan yang lebih tinggi. Target atasan kita dibreakdown menjadi target kita, jadi segala sesuatu yang kita kerjakan berdampak kepada performance atasan atau unit kerja. Oleh sebab itu biasakanlah untuk melaporan kondisi terakhir pekerjaan anda dan hal-hal lain yang terjadi khususnya yang di luar perencanaan. Up date atasan anda dengan informasi yang sesuai untuk selevel jabatan beliau. Buatlah atasan anda well informed, sehingga mampu menjawab setiap pertanyaan yang berkaitan dengan unit yang dipimpin.

Siapkan bagi anda informasi yang lebih detil dan teknis agar sewaktu-waktu dibutuhkan, anda siap menjawabnya.

Dampak terhadap kinerja Apakah perilaku yang baik ldi tempat kerja berdampak langsung terhadap peningkatan kinerja pegawai? Berdasarkan beberapa hasil penelitian tentang pengaruh variabel-variabel budaya perusahaan dan lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan, terbukti bahwa memang memiliki korelasi positif. Artinya perilaku yang baik di tempat kerja akan berpengaruh tidak hanya terhadap perhatian atasan tetapi memang memberikan kontribusi meningkatkan kinerja. Emy Trimahanani/ET/vbm(berbagai sumber)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Semakin Merajalela, Ranjau Paku di Jalanan Menakutkan!!!

Posted on Januari 29, 2011. Filed under: Motor | Tag: |

Jakarta, 28 Januari 2011
Ulah pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab (lebih tepatnya brengsek, penipu, pemeras, dll alias penjahat terselubung yaitu orang yg bikin & nyebarin itu ranjau paku = TTB As.Known.As Tukang Tambal Ban & Konco2nya) dalam menyebarkan paku terus terjadi. Masyarakat diimbau untuk tidak melindas barang-barang yang keliatannya sepele, seperti bungkus rokok, koran, kantung plastik, potongan karet, sendal jepit, bahkan bangkai tikus 😆 sekalipun atau korek api. tambahan: lobang kecil kadang2 suka ditanam paku hitam yg ga begitu keliatan.

“Sebab kemungkinan di dalamnya ada paku,” ujar Kasat Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Yakub saat dihubungi wartawan, Selasa (25/1/2011).

Dari hasil sweeping Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menemukan 10 kilogram paku yang dijadikan ‘ranjau’ di jalanan.

“Paku ini merupakan hasil operasi di empat wilayah di Jakarta selama Januari 2011,” ujarnya.

Data dari Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyebutkan, ada 10 kilogram paku berserakan di ruas jalan di Jakarta. Berikut perinciannya.

Di kawasan Jakarta Barat, ranjau paku tersebar di sepanjang Jl Daan Mogot. Hasil operasi didapat 3,5 kilogram paku yang tersebar di jalanan.

Di kawasan Jakarta Utara juga tidak luput dari ranjau paku. Paku sebanyak 2 kilogram tersebar di dekat Pintu 2 Pertamina, Plumpang hingga Kodamar.

Di Jakarta Pusat, ranjau paku terdapat di Jl Hasyim Ashari, Jl Letjen Suprapto dan underpass Senen. Dari tiga lokasi itu, paku sebanyak 2,5 kilogram berhasil disapu petugas.

Sementara di kawasan Jakarta Selatan, paku sebanyak 2 kilogram dibersihkan di ruas Jl TB Simatupang dan Jl Kartini.

Sementara itu, kawasan rawan ranjau paku yang perlu diwaspadai diantaranya:

1. Jakarta Barat: di Jl S Parman dari RS. Harapan Kita arah lampu merah Slipi (termasuk Fly Over Slipi) dan dari lampu merah Slipi ke arah Tomang.

2. Jakarta Selatan, ranjau paku terdapat di flyover Permata Hijau ke arah Pondok Indah (depan Masjid Istiqomah), dari William Mobil ke arah lampu merah Kostrad, Jl Prof. Satrio (dari Mal Ambassador ke arah Jalan Casablanca), terowongan Casablanca (kearah Mal Ambassador).

3. Jakarta Timur di Jl TB Simatupang (Terutama dekat flyover Lenteng Agung dan ke arah Pasar Minggu), dari Menara Saidah ke arah perempatan Kuningan, Jl MT Haryono (terutama perempatan Patung Pancoran dan flyover Pancoran).

4. Jakarta Pusat, ranjau paku terdapat di Jl Letjen Suprapto dan underpass Senen, Jl Gatot Subroto hingga ke perempatan lampu merah Kuningan dan arah sebaliknya, Jl Majapahit (dari Tanah Abang menuju Harmoni), Jl Gatot Subroto dari depan Bank Mandiri sebelum Polda Metro Jaya sampai Semanggi.

Selain berhati-hati melindas barang yang kelihatan sepele, polisi juga meminta masyarakat untuk mewaspadai titik-titik rawan tersebut. Masyarakat juga diimbau agar memilih ruas jalan yang akan dilalui.

“Jangan melintas di kiri jalan, ambil jalur agak ke tengah, karena paku–paku biasanya disebarkan di kiri jalur jalan,” katanya.


Ranjau Paku Marak, 2 Jam Disisir Petugas Dapat 2 Kg

Kamis, 20 Januari 2011 – 18:04 WIB

Ranjau Paku Marak, 2 Jam Disisir Petugas Dapat 2 Kg

JAKARTA (Pos Kota) – Banyaknya pengaduan masyarakat baik ke Suku Dinas Perhubungan Pemkot Jakarta Utara dan Polres Jakarta Utara soal ranjau paku di sepanjang Jalan Yos Sudarso mulai dari depan Depo Plumpang hingga Mal Arta Gading, kedua instansi tersebut langsung mengambil tindakan menyisir sepanjang jalan tersebut. Hasilnya cukup mengejutkan, sedikitnya 2 kg paku berbagai ukuran diamankan petugas.

Penyisiran dilakukan oleh petugas menggunakan mobil yang di rancang khusus untuk membersihkan ranjau paku yakni dilengkapi dengan besi magnet. Lokasi sasaran itu antara lain sepanjang Jalan Yos Sudarso, Jalan Arta Gading, dan sejumlah jalan yang dianggab rawan ranjau paku.

“Kami banyak mendapat laporan dari warga, kalau sore hari banyak pengendara khususnya sepeda motor yang menjadi korban ranjau paku di jalan Yos Sudarso. Berawal dari laporan itu sejumlah petugas Satlantas Polres Jakarta Utara kerahkan untuk menyisiran lokasi-lokasi yang dianggab rawan,”ungkap Kapolres Jakarta Utara Kombes Pol Andap Budhi Revianto.

Menurut Kapolres, operasi ranjau paku itu dilakukan setelah pihaknya beberapa kali mendapat laporan dari masyarakat yang menyebutkan di kawasan Jalan Yos Sudarso, banyak ranjau paku. Bahkan dalam laporannya itu menyebutkan dalam satu jam sedikitnya 5 hingga 6 pengendara khususnya sepeda motor yang melintas di jalan tersebut terkena ranjau pakai.

“Dua jam anggota lalulintas Polda Metro Jaya menyisir sedikinya ada 2 kg paku berbagai ukuran kami temukan. Saat ini barang bukti tersebut diamankan. Operasi ini akan utin kami melakukan karena banyak pengendara yang mengalami kempes ban karena terkena ranjau paku,” tambah Kapolres yang didampingi Kasat lantas Kompol Adhi Santika.

Untuk itu dia mengimbau kepada pengendara roda dua yang akan melintas di jalan-jalan ibukota supaya berhati-hati dan jangan terlalu ke pinggir. Pasalnya para pelaku penebar paku itu memanfaatkan pinggir jalan yang dipenuhi dengan tumpukan sampah sebagai tempat ranjau.

“Biasanya pelaku memakai bungkus rokok atau korek api, dan tumpukan sampah untuk menaruh ranjau paku. Untuk itu saya mengimbau kepada pengendara roda dua untuk tetap di jalurnya jangan sampai kepinggir-pinggir,” kata Kasudin Hub Pemkot Jakarta Utara Ahmat.


Jalan Hasyim Ashari-Harmoni Juga Rawan Ranjau Paku

Rabu, 26 Januari 2011 – 14:04 WIB

JAKARTA (Pos Kota)- Kejahatan ranjau paku kian merenak di mana-mana termasuk di ruas Jalan Hasyim Ashari menuju Harmoni, Jakarta Pusat. Seperti yang terjadi sepanjang Rabu (26/01) mulai dari pukul 08.13 WIB banyak sepeda motor yang terkena ranjau sehingga ban sepeda motor bocor atau pecah.

“Dalam seminggu belakangan ini banyak yang jadi korban ranjau paku, petugas masih melakukan penyelidikan siapa di balik perbuatan negatif tersebut,”kata petugas TMC Polda Metro Jaya.

Pengendara yang hendak melintas diimbau mencari jalur alternatif agar tidak terkena “jebakan” tersebut. Selain itu ketika berkendara harus hati-hati jangan menggilas benda yang ada di jalan seperti korek api, sampah atau sendal. (binsar)


Hati-Hati Banyak Ranjau Paku

Hati-Hati Banyak Ranjau Paku

Selasa, 25 Januari 2011 – 13:49 WIB

JAKARTA (Pos Kota) – Masih saja, ranjau paku bertebaran pada sejumlah ruas jalan di wilayah Jakarta. Pengguna jalan khususnya kendaraan bermotor diimbau untuk lebih waspada dan berhati-hati karena banyak ranjau paku.

Dari data yang dikumpulkan petugas di lapangan ada beberapa kawasan sering ditemukannya kasus tersebut. Berikut lokasi rawan ranjau paku yang ditebar oleh orang tidak bertanggung jawab di Wilayah DKI Jakarta :

– Jakarta Barat

1. Jalan S. Parman dari RS. Harapan Kita arah lampu merah Slipi (Termasuk Fly Over Slipi).
2. Dari lampu merah Slipi ke arah Tomang.

– Jakarta Selatan

1. Fly Over Permata Hijau ke arah Pondok Indah (Depan Masjid Istiqomah).
2. Dari William Mobil ke arah lampu merah Kostrad.
3. Jalan Prof. Satrio (Dari Mal Ambassador ke arah Jalan Casablanca).
4. Terowongan Casablanca (kearah Mal Ambassador).

– Jakarta Timur

1. Jalan TB. Simatupang (Terutama dekat Fly Over Lenteng Agung dan ke arah Pasar Minggu).
2. Dari Menara Saidah ke arah perempatan Kuningan.
3. Jalan MT. Haryono (Terutama perempatan Patung Pancoran dan Fly Over Pancoran).

– Jakarta Pusat

1. Jalan Gatot Subroto hingga ke perempatan lampu merah Kuningan dan arah sebaliknya.
2. Jalan Majapahit (Dari Tanah Abang menuju Harmoni).
3. Jalan Gatot Subroto dari depan Bank Mandiri sebelum Polda sampai Semanggi (terutama malam hari pas besoknya libur).

TIPS MENGHINDAR

Petugas mengimbau pengendara khususnya sepeda motor jika akan melintas di daerah rawan ranjau paku :

– Usahakan ambil jalur agak ke tengah, karena paku–paku biasanya disebarkan biasanya di kiri jalan.

– Jangan pernah melindas barang-barang yang keliatannya sepele, semisal bungkus rokok, koran, kantung plastik atau korek api, sebab kemungkinan didalamnya ada paku.


Ranjau Paku Momok Bagi Pengendara Motor

Rabu, 19 Januari 2011 – 9:54 WIB

| More

JAKARTA (Pos Kota)- Ranjau paku masih saja jadi hantu menakutkan bagi pengendara sepeda motor. Lokasi atau jalan tempat menebar ranjau pakau tersebut semakin meluas. Jika dulu sering dilakukan sepanjang Jalan Gatot Subroto hingga Jalan S. Parman, sekarang lokasinya ada di mana-mana.

“Depan Roxy Mas arah Harmoni sampai lampu merah banyak paku dijalanan. Sepertinya ada oknum nyebar paku. Hati-hati! Terutama pengendara motor, ” keluh seorang w rga kepada TMC Polda Metro pada pukul 09.17 WIB, Rabu (19/01) melalui twiternya.

Pengendara yang hendak melintas diimbau mencari jalur alternatif agar tidak terkena “jebakan” tersebut. Petugas akan menangani penebaran paku ini.

Selain dari Roxy hingga Harmoni yang juga sering dikeluhkan masyarakat adalah Jalan Raya Bekasi mulai dari Harapan Indah hingga Pasar Cakung. Nyaris setiap pagi puluhan pengendara motor terjebak ranjau paku. Bila sudah kena, pasti mereka jadi sapi perahan tukang tambal ban. ” Yang sedihnya kita mau buru-buru kerja, eh kena ranjau paku. Pasti terlambat masuk kantor,”ujar Ridwan warga Pondok Ungu. (tmc/B)


Polisi Sisir Ranjau Paku Dapat 3 Kg

Kamis, 27 Januari 2011 – 20:50 WIB

| More

JAKARTA (Pos Kota) – Sedikitnya 3 Kg paku karat didapat petugas Polantas Polres Jakarta Pusat dalam penyisiran dua lokasi rawan ranjau paku yang terdapat di wilayah Jakarta Pusat, Kamis (27/1). Kedua lokasi tersebut berada di Jl.Khasim Ashari, Gambir, dan Jl.Letjend Suprapto, Cempaka Putih.

“Penyisiran dilakukan atas banyaknya keluhan warga dan pengendara motor yang melintas di jalan sekitar,” terang Kasat Lantas Polres Jakarta Pusat, Kompol Slamet Asenan.

Menggunakan tongkat yang dipasangkan magnet, sambungnya, sejumlah petugas dengan dibantu warga melakukan penyisiran disekitar jalan. “Kita juga minta bantuan warga sekitar untuk mengawasi siapa pelaku penebar paku tersebut,” jelasnya.

Untuk mengantisipi jatuhnya korban teror penebar ranjau paku, petugas akan melakukan pemasangan tanda rawan ranjau paku di beberapa titik. “Sejumlah himbauan melalui pemasangan juga akan kita lakukan,” tegasnya. (deny/B)


Semakin Merajalela, Ranjau Paku di Jalanan Menakutkan

Selasa, 27 Juli 2010 – 1:21 WIB

| More

JAKARTA (Pos Kota) – Penebar paku di jalanan Jakarta semakin merajalela . Kmarin saja, 11 sepeda motor bannya bocor akibat terkena ranjau paku di sepanjang Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan.

Pengendara yang menjadi korban rata-rata melintas dari arah Cilandak Square menuju Kemang.  “Nggak Cuma sekali ini saja motor saya pecah ban di daerah ini. Saya harap polisi menangkap pelakunya dan hukum seberat-beratnya,” kata Tukiyo,34, korban, dengan nada kesal.

“Gara-gara ulah mereka, saya jadi telat ke kantor,” tambah ayah tiga anak yang berkantor di kawasan Blok M ini. Tak hanya Tukiyo yang jadi korban, para pengendara lainnya juga mengalami nasib serupa. Tercatat ada 11 kendaraan mengalami pencah ban akibat tertancap paku.

Belum diketahui apakah ranjau paku itu sengaja ditebar oleh  penambal ban di sekitar lokasi, atau penjahat jalanan yang berniat merampas harta korban saat kendaraan mogok akibat ban gembos.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Drs Timur Pradopo menjelaskan sudah memerintahkan kepada seluruh kapolres dan kapolsek segera menindak ulah penebar ranjau paku. “Tindak tegas pelakunya,” kata Timur Pradopo.

RANAH POLISI

Gubernur DKI, Fauzi Bowo, mengaku pernah mendengar keluhan masyarakat terkait ulah oknum penambal ban yang menebar paku di jalan. Namun, Pemprov DKI tidak dapat berbuat banyak dalam menertibkannya. Pasalnya hal tersebut merupakan tindakan kriminal yang merupakan ranah polisi.

“Pemprov DKI hanya dapat melakukan penertiban jika tambal ban tersebut melanggar ketentuan lokasi usaha. Untuk membuktikan ranjau paku memang sedikit sulit,” ujar Fauzi.

Hal yang sama juga diungkapkan Kasatpol PP DKI, Effendi Anas, yang menyatakan belum ada permintaan dari pihak Polda Metro Jaya agar pihaknya menertibkan tukang tambal ban. Ditambahkan Effendi pisahknya tidak bisa menertibkan penambal ban  jika hanya beralasan maraknya ranjau paku.

“Itu bukan kewenangan kami. Namun jika keberadaan tambal ban itu mengganggu estetika kota dan ketertiban umum maka mereka dapat kami tertibkan,” tegas Effan.

Gino justru mebantah pernyataan Effendi Anas. Menurut dia Satpol PP bisa menertibkan tukang tambal ban karena menggunakan trotoar jadi tempat usaha. “Kenapa kalau kaki-5 dinyatakan salah, kok tukang tambal ban tidak,”ujar Gino.

Dalam catatan Pos Kota, sejumlah jalan yang selama ini rawan dengan ranjau paku antara lain di Jakarta Barat sepanjang  di Jalan S. Parman dan jembatan layang Pesing. Di Jakarta Selatan, di fly over Permata Hijau,  Pondok Indah, fly over Lenteng Agung, Jalan Prof. Satrio, dan terowongan Casablanca.

Sedang wilayah Jakarta Timur antara lain Jalan TB. Simatupang, sepanjang Jalan Bekasi  ke Pulogadung dan  Jalan Raya Perintis Kemerdekaan.  Selain itu, di wilayah Jakarta Pusat antar lain kawasan Semanggi dan Jalan Majapahit. (edi/guruh/B)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

The Noble Eightfold Path

Posted on Januari 26, 2011. Filed under: Life | Tag: |


The Noble Eightfold Path describes the way to the end of suffering, as it was laid out by Siddhartha Gautama. It is a practical guideline to ethical and mental development with the goal of freeing the individual from attachments and delusions [false belief, hope] and it finally leads to understanding the truth about all things. Together with the Four Noble Truths it constitutes the gist of Buddhism. Great emphasis is put on the practical aspect, because it is only through practice that one can attain a higher level of existence and finally reach Nirvana. The eight aspects of the path are not to be understood as a sequence of single steps, instead they are highly interdependent principles that have to be seen in relationship with each other.

1. Right View Wisdom

Right view is the beginning and the end of the path, it simply means to see and to understand things as they really are and to realise the Four Noble Truth. As such, right view is the cognitive aspect of wisdom. It means to see things through, to grasp the impermanent and imperfect nature of worldly objects and ideas, and to understand the law of karma and karmic conditioning. Right view is not necessarily an intellectual capacity, just as wisdom is not just a matter of intelligence. Instead, right view is attained [gain], sustained [support], and enhanced through all capacities of mind. It begins with the intuitive insight that all beings are subject to suffering and it ends with complete understanding of the true nature of all things. Since our view of the world forms our thoughts and our actions, right view yields right thoughts and right actions.

 

2. Right Intention Wisdom

While right view refers to the cognitive aspect of wisdom, right intention refers to the volitional [willing power] aspect, i.e. the kind of mental energy that controls our actions. Right intention can be described best as commitment to ethical and mental self-improvement. Buddha distinguishes three types of right intentions: 1. the intention of renunciation [self-denial], which means resistance to the pull of desire, 2. the intention of good will, meaning resistance to feelings of anger and aversion[dislike], and 3. the intention of harmlessness, meaning not to think or act cruelly, violently, or aggressively, and to develop compassion[helpness/ mercifull].

 

3. Right Speech Ethical[decent] Conduct[behaviour]

Right speech is the first principle of ethical conduct in the eightfold path. Ethical conduct is viewed as a guideline to moral discipline, which supports the other principles of the path. This aspect is not self-sufficient, however, essential, because mental purification can only be achieved through the cultivation of ethical conduct. The importance of speech in the context of Buddhist ethics is obvious: words can break or save lives, make enemies or friends, start war or create peace. Buddha explained right speech as follows: 1. to abstain from false speech, especially not to tell deliberate [intentional, considered] lies and not to speak deceitfully[deception], 2. to abstain from slanderous[false] speech and not to use words maliciously against others, 3. to abstain from harsh words that offend or hurt others, and 4. to abstain from idle chatter that lacks purpose or depth. Positively phrased, this means to tell the truth, to speak friendly, warm, and gently and to talk only when necessary.

 

4. Right Action Ethical Conduct

The second ethical principle, right action, involves the body as natural means of expression, as it refers to deeds that involve bodily actions. Unwholesome actions lead to unsound states of mind, while wholesome actions lead to sound states of mind. Again, the principle is explained in terms of abstinence: right action means 1. to abstain from harming sentient beings, especially to abstain from taking life (including suicide) and doing harm intentionally or delinquently, 2. to abstain from taking what is not given, which includes stealing, robbery, fraud, deceitfulness, and dishonesty, and 3. to abstain from sexual misconduct. Positively formulated, right action means to act kindly and compassionately, to be honest, to respect the belongings of others, and to keep sexual relationships harmless to others. Further details regarding the concrete meaning of right action can be found in the Precepts.

 

 

5. Right Livelihood Ethical Conduct

Right livelihood means that one should earn one’s living in a righteous way and that wealth should be gained legally and peacefully. The Buddha mentions four specific activities that harm other beings and that one should avoid for this reason: 1. dealing in weapons, 2. dealing in living beings (including raising animals for slaughter as well as slave trade and prostitution), 3. working in meat production and butchery, and 4. selling intoxicants and poisons, such as alcohol and drugs. Furthermore any other occupation that would violate the principles of right speech and right action should be avoided.

 

6. Right Effort Mental Development

Right effort can be seen as a prerequisite for the other principles of the path. Without effort, which is in itself an act of will, nothing can be achieved, whereas misguided effort distracts the mind from its task, and confusion will be the consequence. Mental energy is the force behind right effort; it can occur in either wholesome [promoting physical, mental, or moral health] or unwholesome [detrimental to physical or moral health] states. The same type of energy that fuels desire, envy, aggression, and violence can on the other side fuel self-discipline, honesty, benevolence [well-wishing; actively friendly and helpful], and kindness. Right effort is detailed in four types of endeavours [exploration] that rank in ascending order of perfection: 1. to prevent the arising of unarisen unwholesome states, 2. to abandon unwholesome states that have already arisen, 3. to arouse wholesome states that have not yet arisen, and 4. to maintain and perfect wholesome states already arisen.
7. Right Mindfulness [idea, giving thought] Mental Development

Right mindfulness is the controlled and perfected faculty [aptitude] of cognition. It is the mental ability to see things as they are, with clear consciousness. Usually, the cognitive [understand process] process begins with an impression induced[persuaded] by perception, or by a thought, but then it does not stay with the mere[being solely] impression[concept]. Instead, we almost always conceptualise [form a concept] sense impressions and thoughts immediately. We interpret them and set them in relation to other thoughts and experiences, which naturally go beyond the facticity of the original impression. The mind then posits [assume as fact] concepts, joins concepts into constructs [forms], and weaves those constructs into complex interpretative schemes. All this happens only half consciously, and as a result we often see things obscured [unexplained, indistinct]. Right mindfulness is anchored [rooted] in clear perception and it penetrates impressions without getting carried away. Right mindfulness enables us to be aware of the process of conceptualisation in a way that we actively observe and control the way our thoughts go. Buddha accounted [arranged] for this as the four foundations of mindfulness: 1. contemplation [meditation, gaze, think]of the body, 2. contemplation of feeling (repulsive [causing aversion or loathing; disgusting], attractive, or neutral), 3. contemplation of the state of mind, and 4. contemplation of the phenomena.

 

8. Right Concentration Mental Development

The eighth principle of the path, right concentration, refers to the development of a mental force that occurs in natural consciousness, although at a relatively low level of intensity, namely concentration. Concentration in this context is described as one-pointedness of mind, meaning a state where all mental faculties are unified and directed onto one particular object. Right concentration for the purpose of the eightfold path means wholesome concentration, i.e. concentration on wholesome thoughts and actions. The Buddhist method of choice to develop right concentration is through the practice of meditation. The meditating mind focuses on a selected object. It first directs itself onto it, then sustains concentration, and finally intensifies concentration step by step. Through this practice it becomes natural to apply elevated levels concentration also in everyday situations.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 1 so far )

The Four Noble Truths

Posted on Januari 26, 2011. Filed under: Life | Tag: |

In his first teaching in the Dear Park near Benares, the Buddha introduced his essential teaching on the cause of unhappiness and the way to end it. This teaching in the Deer Park is sometimes called the ‘first turning of the wheel’.

The First Noble Truth is the Truth of Dukkha (suffering or “unsatisfactoriness”)
‘Birth is suffering, ageing is suffering, death is suffering; sorrow, lamentation, pain, grief and tribulation are suffering; association with what one dislikes is suffering; separation from what one likes is suffering; not to get what one wants is suffering.’ Samyutta Nikaya 5: 421-3

 

We are unhappy because we do not always get what we want, become bored if we get too much of it, are scared of loosing it and dread facing up to the unpleasant aspects of life.

The Second Noble Truth is the Truth of Samudaya – The origin of Dukkha or Suffering.
“This is the Noble Truth of the origin of Dukkha: it is craving which produces renewal of being, is accompanied by relish and greed, seeking its delight now here, now there; in other words craving for sensual experience, craving for being [i.e. eternal life], craving to non-being [i.e. oblivion]”. Samyutta Nikaya 5.

 

The underlying cause of our suffering and unhappiness is our constant desires for nice things and experiences and hatred of the unpleasant. We bring about our own Dukkha and Karma by acting on our desires.

The Third Noble Truth is the Truth of Nirodha – The Cessation of Dukkha
” This is the Noble Truth of the cessation of Dukkha: it is the remainderless fading and ceasing, the giving up, relinquishing, letting go and rejecting of that same craving!” Samyutta Nikaya 5: 421-3

 

This is the god news that the Buddha brings us – that there is an alternative to all this suffering, unhappiness and gloom. If we are the makers of our own suffering (the world of samsara) we can stop creating it and enter into nirvana.

The Fourth Noble Truth is the Truth of Magga – The way leading to the cessation of Dukkha; namely The Noble Eightfold Path consisting of:

Right Understanding or Views: knowledge of the Four Noble Truths; understanding the Dharma; seeing the real nature of the self.
Right Thoughts or Intentions: thoughts of renunciation – not chasing pleasures; kind thoughts – not bearing ill will; harmlessness – not wishing cruelty.
Right Speech: refraining from lying, slandering, harsh words, angry outbursts and gossiping.
Right Action – refraining from killing, hurting others, theft, sexual misconduct, sensual misconduct and intoxicants
Right Livelihood: not making a living from a trade that causes harm
Right Effort or endeavour
Right Mindfulness or Awareness: awareness of the body, feelings, mind and thoughts.
Right Meditation or Concentration: the gradual process of training the mind to be calm and concentrated.

 

This is not a gradational path, with the next step starting when the previous one is mastered. All 8 steps are inter-linked and our understanding deepens as we practice the way of morality, meditation and wisdom.


 


Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: